kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.809   20,00   0,12%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Buyback Jumbo, Harga Saham Orang Terkaya Indonesia Mendaki, Pilih Beli / Jual?


Kamis, 05 Februari 2026 / 07:10 WIB
Diperbarui Kamis, 05 Februari 2026 / 07:16 WIB
Buyback Jumbo, Harga Saham Orang Terkaya Indonesia Mendaki, Pilih Beli / Jual?
ILUSTRASI. Buyback Jumbo, Harga Saham Orang Terkaya Indonesia Mendaki, Pilih Beli / Jual?


Reporter: Adi Wikanto, Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu, langsung mendaki berkat rencana buyback atau pembelian kembali bernilai jumbo. Total dana buyback tersebut mencapai Rp 3,75 triliun. Apakah saham orang terkaya Indonesia layak dibeli atau malah saatnya jual?

Emiten terafiliasi Prajogo Pangestu tersebut adalah  PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Pada perdagangan Rabu 4 Februari 2026, harga saham CUAN ditutup di level 1.715 naik 50 poin atau 3% dibandingkan sehari sebelumnya. Harga saham CUAN terakumulasi naik 155 poin atau 9,94% dalam lima hari terakhir.

Pada hari yang sama, harga saham TPIA naik 325 poin atau 4,98% ke level 6.850. Harga saham TPIA terakumulasi bertambah 500 poin atau 7,87% dibandingkan sehari sebelumnya. 

Harga saham BRPT juga meningkat 150 poin atau 7,58% ke level 2.130 pada akhir perdagangan Rabu (4/2/2026). Selama lima hari perdagangan, harga saham BRPT naik 175 poin atau 8,95%. 

Sebelumnya, ketiga saham tersebut berada dalam tren penurunan. Dalam sebulan terakhir, harga saham BRPT tercatat anjlok 33,23%, CUAN merosot 25,11%, sedangkan saham TPIA terkoreksi 3,86%.

Baca Juga: ORI029 Laris Manis, Tenor 3 Tahun dan 6 Tahun Diburu Investor

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), BRPT mengalokasikan dana buyback sebesar Rp 1 triliun. Sementara itu, TPIA dan CUAN masing-masing menyiapkan dana sebesar Rp 2 triliun dan Rp 750 miliar. Seluruh dana buyback tersebut bersumber dari kas internal masing-masing perusahaan.

Ketiga emiten sepakat melaksanakan buyback saham selama periode 4 Februari 2026 hingga 3 Mei 2026 atau selama tiga bulan.

Manajemen BRPT, TPIA, dan CUAN menegaskan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan berdampak negatif terhadap kegiatan operasional maupun kinerja keuangan perusahaan. Hal ini lantaran masing-masing emiten memiliki modal kerja dan arus kas yang memadai untuk mendukung aksi korporasi tersebut.

Selain itu, buyback diharapkan dapat memberikan fleksibilitas dalam mencapai struktur permodalan yang lebih efisien sekaligus mencerminkan kinerja fundamental perusahaan melalui harga saham yang lebih wajar.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai aksi buyback serentak ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang sangat volatil serta tekanan jual yang cukup tinggi pada saham-saham tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

“Di level harga sekarang, manajemen kemungkinan melihat valuasi saham sudah turun di bawah kewajaran. Buyback menjadi sinyal bahwa perusahaan percaya terhadap valuasi dan prospeknya, sekaligus membantu menahan laju penurunan harga di tengah sentimen pasar yang rapuh,” ujar Ekky, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1,4 Triliun, Intip Saham yang Banyak Dilego, Rabu (4/2)

Rekomendasi Saham

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachman, menambahkan bahwa secara umum buyback merupakan instrumen strategis untuk mendukung stabilitas harga saham dan meredam tekanan jual yang berlebihan. Dukungan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberi ruang bagi emiten untuk bertindak lebih proaktif dalam menjaga kepercayaan pasar.

Menurutnya, penggunaan kas internal menunjukkan posisi likuiditas perusahaan yang sehat serta mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis ke depan. Dengan demikian, buyback tidak semata bersifat defensif, tetapi juga menjadi sinyal kepercayaan diri bahwa valuasi saham saat ini sudah cukup menarik.

“Kesamaan waktu pelaksanaan buyback juga mengindikasikan adanya tantangan eksternal yang serupa, bukan karena masalah fundamental spesifik di masing-masing emiten,” terang Hari, Rabu (4/2/2026).

Hari melanjutkan, secara historis saham yang sedang dalam periode buyback cenderung bergerak lebih stabil, bahkan berpotensi sideways hingga menguat. Hal ini didorong oleh masuknya emiten sebagai pembeli aktif di pasar serta membaiknya persepsi investor terhadap valuasi saham tersebut.

Meski demikian, buyback lebih berfungsi sebagai penopang harga ketimbang katalis reli agresif dalam jangka pendek. Arah penguatan yang lebih berkelanjutan tetap sangat bergantung pada kinerja keuangan, realisasi ekspansi, serta kondisi pasar secara keseluruhan.

Di sisi lain, Ekky menilai buyback berpotensi menahan penurunan harga dan membuka peluang technical rebound, terutama jika realisasi pembelian saham berjalan konsisten dan terlihat di pasar.

Tonton: Bareskrim Geledah PT Shinhan Sekuritas Terkait Dugaan Saham Gorengan

Namun, ia mengingatkan bahwa buyback tidak otomatis membuat harga saham langsung melonjak, karena pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar dan arus dana global.

“Perannya lebih sebagai penahan volatilitas dan penambah kepercayaan investor saat pasar sedang sensitif,” imbuhnya.

Secara umum, para analis masih menilai prospek kinerja BRPT, TPIA, dan CUAN cukup menjanjikan. Kinerja BRPT ditopang oleh diversifikasi bisnis di sektor petrokimia dan energi terbarukan. TPIA berpotensi mencatatkan pemulihan kinerja seiring perbaikan siklus petrokimia dan efisiensi operasional. Sementara CUAN memiliki prospek kuat berkat dukungan kontrak jasa tambang dan eksposur pada sektor energi.

Untuk jangka pendek, Ekky menyarankan investor dapat memanfaatkan momentum trading pada saham BRPT, TPIA, dan CUAN jika terjadi pantulan harga, dengan tetap disiplin mengingat volatilitas yang masih tinggi.

Sementara untuk jangka menengah hingga panjang, ia merekomendasikan strategi wait and see sembari mencermati realisasi kinerja dan eksekusi ekspansi bisnis masing-masing emiten.


 

ANTM Tegaskan Kenaikan HPE Emas Tak Pengaruhi Penjualan, Fokus Pasar Domestik

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Jatim: Surabaya & Malang Hujan, Bagaimana Daerah Lain?

Menarik Dibaca: Ini 5 Saham yang Paling Banyak Dilepas Asing dengan Net Sell Tertinggi (4/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×