Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin berada di ambang menembus ke bawah level psikologis US$70.000 pada Kamis (5/2/2026), seiring tekanan jual yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Melansir Reuters, Bitcoin turun sekitar 2% pada perdagangan awal Eropa, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 3,5% dalam sesi Asia ke level US$70.052,38. Posisi ini menjadi yang terendah sejak November 2024.
Baca Juga: IHSG Turun 0,53% Hari Ini (5/2), Simak Proyeksinya Besok (6/2)
Sementara itu, Ether juga bergerak turun 0,7% ke level US$2.111,34. Jika harga menembus di bawah US$2.000, maka itu akan menjadi pertama kalinya kripto terbesar kedua di dunia tersebut jatuh ke bawah level tersebut sejak Mei tahun lalu.
Analis menilai tekanan tajam di pasar kripto kali ini dipicu oleh nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed).
Pasar khawatir Warsh akan mengambil kebijakan yang lebih ketat, termasuk kemungkinan memperkecil neraca bank sentral AS.
Melansir data Coinmarketcap pukul 18.04 WIB, Bitcoin di US$70.742 atau turun 19,40% dalam tujuh hari terakhir..
Adapun Ether mencatatkan penurunan yang lebih dalam, yakni mendekati 30% sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Pameran IIMS 2026 Jadi Sentimen Jangka Pendek bagi Saham Otomotif
Selama ini, aset kripto kerap dipandang sebagai pihak yang diuntungkan dari kebijakan moneter longgar dan neraca The Fed yang besar.
Likuiditas tinggi di pasar keuangan global biasanya menjadi penopang bagi aset-aset berisiko, termasuk kripto.
“Pasar khawatir dia akan bersikap hawkish. Neraca The Fed yang lebih kecil tidak akan memberikan dorongan positif bagi kripto,” ujar Manuel Villegas Franceschi dari tim next generation research Julius Baer.
Di sisi lain, pasar kripto juga masih bergulat dengan tekanan sejak kejatuhan besar pada Oktober lalu, ketika Bitcoin anjlok dari level tertingginya akibat aksi likuidasi besar-besaran pada posisi leverage.
Kondisi tersebut membuat minat investor terhadap aset digital semakin mendingin dan sentimen pasar tetap rapuh.
Analis Deutsche Bank menilai pelemahan kripto secara luas saat ini terutama didorong oleh arus keluar besar dari produk ETF institusional.
Baca Juga: Revisi Aturan Free Float Berpotensi Tahan Laju IPO Hingga Semester I-2026
Menurut mereka, dana-dana tersebut mencatatkan arus keluar miliaran dolar setiap bulan sejak kejatuhan pasar pada Oktober 2025.
Deutsche Bank mencatat, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mengalami arus keluar lebih dari US$3 miliar pada Januari, setelah sebelumnya mencatatkan arus keluar sekitar US$2 miliar pada Desember dan US$7 miliar pada November.
“Tekanan jual yang konsisten ini menunjukkan bahwa investor tradisional mulai kehilangan minat, dan pesimisme terhadap pasar kripto secara keseluruhan semakin meningkat,” tulis analis Deutsche Bank dalam catatannya.
Selanjutnya: Resmi Jadi Hakim MK, Adies Kadir Pastikan Tak Akan Tangani Gugatan Terkait Golkar
Menarik Dibaca: 4 Manfaat Konsumsi Serat bagi Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













