Reporter: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga emas dunia pada perdagangan Senin 2 Februari 2026 terkoreksi tajam hingga 15% dari puncak. Analis menilai saham emiten emas tetap menarik secara fundamental dan berpeluang jadi incaran investor jangka menengah.
Mengutip Trading Economics, harga emas dunia anjlok 3,45% ke level US$ 4.717,85 per ons troi pada Senin (2/2) pukul 17.18 WIB. Secara kumulatif, harga emas telah terkoreksi 15,18% dari posisi tertingginya di level US$ 5.562,3 per ons troi yang dicapai pada 29 Januari 2026.
Seiring penurunan harga emas, saham-saham emiten emas juga mengalami koreksi signifikan. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 9,50% ke level Rp 3.810 per saham. Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) masing-masing menyentuh auto reject bawah (ARB) sebesar 14,95%, 14,81%, dan 14,93%.
Baca Juga: IHSG Tertekan Dampak MSCI, Investor Masih Bisa Cuan Lewat Strategi Diversifikasi Ini
Saat harga saham emiten penghasil emas turun, dua analis kompak rekomendasi beli. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand merekomendasikan saham ANTM, ARCI, dan BRMS dengan target harga masing-masing Rp 4.100 per saham, Rp 2.000 per saham, dan Rp 1.080 per saham.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su merekomendasikan saham ANTM, BRMS, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan target harga Rp 4.600, Rp 1.300, dan Rp 10.000 per saham.
Prospek emas
Harry menjelaskan penurunan harga emas yang signifikan ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah reli harga yang sangat agresif, yakni lebih dari 25% sejak awal 2026.
“Tekanan harga emas juga diperparah oleh kebutuhan tambahan margin di kontrak futures, yang memaksa sebagian pelaku pasar untuk menambah jaminan atau bahkan menutup posisi,” ujar Harry, Senin (2/2).
Meski terkoreksi dalam jangka pendek, prospek emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) dinilai masih terbuka. Selama Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menciptakan ketidakpastian geopolitik global, mulai dari wacana konflik dengan Iran hingga ketegangan dengan NATO, emas berpeluang tetap menjadi pilihan investor.
Abida menilai secara fundamental harga emas saat ini masih berada di level yang sangat menguntungkan bagi emiten produsen emas. Pasalnya, rata-rata biaya produksi emas global berada jauh di bawah harga pasar saat ini.
“Koreksi harga emas ini lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek, bukan berakhirnya tren struktural,” kata Abida. Ia menambahkan, volatilitas saham emiten emas saat ini lebih bersifat teknikal dibandingkan perubahan fundamental.
Namun, Abida menilai jika harga emas melanjutkan koreksi sepanjang 2026, kinerja emiten emas relatif masih terjaga karena margin tetap positif. Dengan catatan, emiten mampu menjaga efisiensi biaya, mengoptimalkan produksi ber-grade tinggi, serta menerapkan belanja modal yang disiplin.
Tonton: Indonesia Darurat Sampah, Prabowo Bangun 34 Proyek Waste to Energi Senilai Rp 58 T
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menambahkan bahwa penurunan harga emas tidak otomatis berdampak negatif terhadap emiten. Saat reli harga emas mereda, pasar cenderung melakukan normalisasi ekspektasi terhadap saham-saham emas.
“Emiten yang memiliki biaya produksi kompetitif, produksi stabil, dan neraca yang sehat cenderung lebih tahan terhadap volatilitas harga emas,” ujar Ekky.
Bagi investor, kondisi ini dinilai sebagai fase wait and see sebelum melakukan akumulasi. Investor disarankan tidak terburu-buru membeli saham emas saat tekanan masih tinggi, melainkan menunggu stabilisasi harga emas dan pembentukan base pada saham terkait.
Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Surabaya Selasa: Aktivitas Luar Ruangan Berisiko Basah, Waspada!
Menarik Dibaca: Promo Bakmi GM & Chopstix: Imlek Makin Cuan, Kantong Tetap Aman!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













