Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya pikat bagi investor asing, kendati minat masuknya modal internasional kini berlangsung jauh lebih selektif akibat tergerusnya selisih imbal hasil (yield spread) serta menguatnya indikator risiko global.
Per 29 September 2026, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,20%.
Di saat bersamaan, yield US Treasury tenor 10 tahun telah menyentuh 5,24%, sehingga selisih imbal hasil (spread) antara obligasi pemerintah Indonesia dan AS menyempit tinggal sekitar 1,96 poin persentase (sekitar 196 basis poin).
Penyempitan spread tersebut menuntut investor asing berhitung lebih cermat apakah tambahan imbal hasil sebesar 2 poin persentase memadai untuk menutup risiko pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian global.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Kupon SBR015, Lebih Tinggi dari SBR014
Di sisi lain, indikator risiko gagal bayar (Credit Default Swap/CDS) 10 tahun Indonesia juga merangkak naik ke level 138,83 dari pekan sebelumnya sebesar 134, yang menandakan adanya kenaikan premi risiko.
Meski demikian, belum terlihat adanya eksodus modal asing secara masif.
Kepemilikan nonresiden pada SBN rupiah tercatat berada di kisaran Rp 908 triliun per 25 September 2026, atau naik sekitar Rp 30 triliun dibandingkan dengan akhir 2025 dan porsinya setara dengan 13% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai dinamika pasar saat ini belum mencerminkan kondisi yang ekstrem, melainkan bentuk kewaspadaan investor dalam menkalkulasi imbal hasil dan risiko.
"Bagi investor asing, titik masuk yang benar-benar lebih menarik baru terbentuk apabila kenaikan imbal hasil mulai diikuti stabilisasi risiko," kata Josua kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Sembari menanti stabilisasi pasar, aliran modal asing juga tampak bergeser secara taktis ke instrumen berjangka lebih pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga: Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%, Modal Asing & BI Rate Tahan Tekanan SBN
Pada lelang SRBI 25 September 2026, jumlah penawaran masuk mencapai Rp 64,1 triliun untuk target penyerapan Rp 15 triliun dengan imbal hasil tenor 12 bulan sebesar 6,76%.
Sikap ragu investor asing untuk mengunci dana di tenor panjang tercermin pula dari kurva yield SBN tenor 5 tahun sebesar 7,15% yang hampir sejajar (flat) dengan tenor 10 tahun di level 7,16%.
Ke depan, posisi yield SBN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak di rentang 7,15% hingga 7,35% hingga akhir tahun 2026.
Aliran dana asing diperkirakan akan masuk secara periodik ketika nilai tukar rupiah stabil dan imbal hasil obligasi AS melandai, diselingi aksi jual teknikal saat tekanan dolar AS memuncak.
Untuk menjaga daya tarik aset domestik, Bank Indonesia (BI) diyakini akan terus memperkuat intervensi pasar serta memperbesar fasilitas insentif lindung nilai (hedging), seraya mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75%.
Baca Juga: Obligasi Domestik Kebal Tekanan UST, Asing Serbu SBN Jelang Akhir 2026
Josua menegaskan bahwa tingginya yield obligasi pemerintah saat ini belum menjadi jaminan mutlak tanpa adanya kepastian stabilitas makroekonomi.
"Selama risiko masih naik, yield tinggi pada dasarnya masih merupakan kompensasi atas ketidakpastian yang lebih besar," tutup Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














