Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penurunan kinerja keuangan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Pendapatan bersih konsolidasian UNTR turun 15% year on year (yoy) menjadi Rp 58,3 triliun pada semester I-2026.
Penurunan ini terutama dikarenakan penjualan emas yang lebih rendah di PT Agincourt Resources, serta penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batubara termal dan metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) batubara nasional tahun 2026 yang lebih rendah. Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS).
Laba bersih UNTR tidak termasuk non-recurring items turun 48% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu menjadi Rp 4,3 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat ke Rp 18.070 per Dolar AS pada Perdagangan Kamis (30/7) Pagi
Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang tersebut. Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua.
Selama semester I-2026, UNTR mencatat non-recurring items senilai Rp 3,3 terutama terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Per 30 Juni 2026, UNTR mencatat utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp 7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.
Berikut ini adalah rincian kinerja operasional dari unit usaha utama UNTR:
Unit Usaha Alat Berat (Heavy Equipment)
Penjualan alat berat Komatsu pada semester I-2026 turun 27% menjadi 1.994 unit terutama disebabkan oleh penurunan penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 55% menjadi 325 unit, dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah. Dari total keseluruhan penjualan alat berat, sebesar 52% diserap sektor pertambangan, 16% diserap sektor perkebunan, 20% diserap sektor konstruksi, dan 12% ke sektor kehutanan.
Pendapatan UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat sedikit meningkat dari Rp 5,4 triliun pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp 5,5 triliun. Secara keseluruhan, pendapatan bersih dari alat berat turun 28% menjadi Rp 15 triliun.
Baca Juga: Prospek Kinerja Triputra Agro (TAPG) Membaik di Semester II, Cek Rekomendasi Sahamnya
Untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas, UNTR juga memiliki bisnis pendukung melalui anak usahanya yang menyediakan layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment alat berat, serta menawarkan layanan logistik maritim, pembuatan dan pemeliharaan kapal.
Unit Usaha Kontraktor Penambangan
Unit usaha UNTR di bidang Kontraktor Penambangan dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya, PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Sampai semester pertama tahun 2026, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 481 juta bank cubic meter (bcm) dan volume produksi batubara untuk para kliennya turun 3% menjadi 67 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,2 kali, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Mixed pada Kamis (30/7) Pagi, Mayoritas Indeks Menguat
Sejalan dengan peluang bisnis yang berkembang di sektor mineral selain batubara, PAMA Group memperkuat ekspansinya ke sektor emas dan nikel. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen dalam membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan serta memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang Pama Group.
Pendapatan bersih UNTR dari kontraktor penambangan naik 4% menjadi Rp 27,2 triliun yang terutama disebabkan karena penguatan kurs dolar AS.
Unit Usaha Pertambangan Batubara Termal dan Metalurgi
Unit usaha Perseroan di bidang Penambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources). Tambang batubara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 6 juta ton (termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi) atau turun 10% dari periode yang sama di tahun 2025.
Pendapatan UNTR dari segmen usaha pertambangan batubara termal dan metalurgi turun sebesar 4% menjadi Rp 12,9 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan batubara.
Unit Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Pendapatan bersih UNTR dari bisnis emas dan mineral lainnya turun 66% menjadi Rp 2,4 triliun pada semester I-2026, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan emas sebesar 82%.
Sebagai informasi, usaha pertambangan emas UNTR dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 23.000 ons sampai dengan semester pertama tahun 2026 dibandingkan tahun lalu sebesar 125.000 ons.
Di segmen nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 886.000 wet metric ton (wmt) sampai dengan semester I-2026, yang terdiri dari 260.000 wmt saprolit dan 626.000 wmt limonit.
Baca Juga: Harga Emas Naik Kamis (30/7) Pagi, Didukung Sikap The Fed yang Menahan Suku Bunga
UNTR juga menjalankan bisnis nikel melalui Nickel Industries Limited (NIC) yang merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. UNTR memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 20,13% di perusahaan tersebut.
Emiten ini mengakui kontribusi dari NIC untuk periode 6 bulan ke belakang berdasarkan hasil dari NIC pada kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton pada kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














