Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah menggelontorkan stimulus ekonomi senilai sekitar Rp 31 triliun pada kuartal IV-2026 berpotensi menopang konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut turut menjadi katalis bagi sejumlah emiten sektor consumer dan ritel yang memiliki keterkaitan langsung dengan belanja masyarakat.
Pemerintah menyiapkan sejumlah program stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.
Secara rinci, stimulus tersebut mencakup bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan ke depan. Program ini menyasar 33,24 juta keluarga penerima manfaat yang berada di desil 1 hingga desil 4, dengan alokasi anggaran mencapai Rp 17,5 triliun.
Selain bantuan pangan, pemerintah juga berencana menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 300 ribu per bulan selama tiga bulan. Program tersebut menyasar sekitar 13,3 juta pekerja dengan kebutuhan anggaran hampir Rp 12 triliun.
Baca Juga: IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Pemerintah juga tengah menggodok program pembukaan rekening bagi warga negara Indonesia berusia di atas 17 tahun. Sasaran program tersebut juga mencakup masyarakat desil 1 hingga desil 4. Namun, Kementerian Keuangan masih menghitung kebutuhan anggaran untuk program tersebut.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengungkapkan program stimulus ekonomi menjadi sentimen positif bagi emiten, terutama bagi perusahaan yang berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat.
"BSU memberikan tambahan disposable income bagi pekerja, sementara bantuan pangan dapat mengurangi sebagian pengeluaran kebutuhan pokok, sehingga masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk melakukan konsumsi lainnya," kata Ekky kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Meski demikian, Ekky menilai dampak stimulus tersebut terhadap kinerja emiten masih cenderung moderat. Menurut dia, stimulus lebih berfungsi menjaga daya beli dan mempertahankan momentum konsumsi ketimbang langsung mendorong lonjakan konsumsi secara signifikan.
Terlebih, pertumbuhan penjualan ritel saat ini masih relatif terbatas. Karena itu, dampak paling cepat diperkirakan terlihat pada sektor consumer staples dan ritel yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, efek terhadap consumer discretionary berpotensi tetap ada, tetapi tidak sebesar sektor kebutuhan pokok.
Emiten Menadah Berkah Stimulus Ekonomi
Untuk emiten sektor ritel, Ekky melihat AMRT dan MIDI cukup berpotensi mendapatkan manfaat dari stimulus. Kedua emiten tersebut memiliki jaringan toko yang luas dengan produk yang banyak menyasar kebutuhan harian masyarakat.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Naik, Begini Prospek Saham Emiten Plastik hingga Akhir 2026
Dengan adanya tambahan daya beli, frekuensi transaksi maupun average basket size berpotensi ikut terjaga.
Sementara pada sektor consumer staples, ICBP, INDF dan MYOR juga dinilai cukup menarik. Ketiga perusahaan tersebut memiliki produk yang bersifat kebutuhan sehari-hari, jenama yang kuat serta jaringan distribusi yang luas.
Dengan demikian, apabila konsumsi masyarakat mengalami perbaikan, emiten-emiten tersebut relatif dapat merasakan dampaknya dalam waktu lebih cepat.
Program pembukaan rekening bagi masyarakat desil 1 hingga desil 4 juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap inklusi keuangan dan aktivitas transaksi perbankan. Namun, Ekky menilai masih diperlukan kejelasan mengenai mekanisme program serta bank yang akan terlibat dalam implementasinya untuk menentukan emiten perbankan yang berpotensi memperoleh manfaat paling besar.
Di sisi lain, Ekky mengingatkan investor agar tidak langsung membeli saham hanya karena adanya stimulus pemerintah. Menurut dia, stimulus sebaiknya dipandang sebagai katalis tambahan, sedangkan pertimbangan utama tetap mencakup fundamental, valuasi dan kemampuan perusahaan dalam menjaga margin.
"Investor juga perlu melihat apakah stimulus benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan volume penjualan. Sebab tantangan sektor consumer masih ada, seperti daya beli yang belum sepenuhnya kuat, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor, serta potensi kenaikan biaya logistik," tambah Ekky.
Oleh karena itu, Ekky lebih menyukai strategi akumulasi secara bertahap pada emiten dengan fundamental kuat dan valuasi yang cukup menarik dibandingkan mengejar saham yang sudah mengalami kenaikan tinggi hanya karena sentimen stimulus.
Baca Juga: Nilai Tukar AUD/IDR Melonjak 12,59% pada September 2026, Intip Pemicu Utamanya
Rekomendasi Saham Pilihan
Untuk pilihan utama, Ekky masih menyukai ICBP. Menurut dia, bisnis perusahaan cukup defensif, pertumbuhan operasional masih terjaga serta didukung pricing power dan jaringan distribusi yang kuat. Target harga ICBP berada di kisaran Rp 9.500–Rp 10.500.
Selain ICBP, Ekky melihat AMRT cukup menarik karena menjadi salah satu emiten yang relatif langsung mendapatkan manfaat dari perbaikan konsumsi masyarakat. Target harga AMRT berada di sekitar Rp 2.100.
MYOR juga dinilai masih menarik karena perbaikan margin yang cukup baik serta eksposur yang besar terhadap produk konsumsi harian. Target harga MYOR berada di kisaran Rp 2.700–Rp 2.850.
"Secara keseluruhan kami melihat stimulus pemerintah ini positif untuk sektor consumer, tetapi belum cukup untuk menjadi game changer. Dampak utamanya lebih kepada menjaga daya beli dan momentum konsumsi pada kuartal IV, sehingga emiten dengan produk kebutuhan harian, distribusi luas dan fundamental yang kuat menurut kami menjadi beneficiary yang paling menarik," tutup Ekky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














