Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) hingga akhir 2026 masih dinilai menarik untuk dikoleksi, meski pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan menekan margin laba emiten farmasi tersebut.
Sejumlah analis tetap mempertahankan rekomendasi buy karena fundamental perseroan dinilai masih solid dan memiliki sejumlah katalis pertumbuhan.
Tekanan utama datang dari tingginya ketergantungan Kalbe terhadap bahan baku impor, khususnya active pharmaceutical ingredients (API).
Pelemahan rupiah diperkirakan meningkatkan biaya impor sehingga berpotensi menggerus margin laba. Meski begitu, dampaknya diyakini belum akan terasa signifikan dalam jangka pendek karena perseroan masih memiliki persediaan bahan baku yang cukup besar.
Baca Juga: Dividen Turun, Kalbe Farma (KLBF) Pilih Perkuat Ekspansi di Tengah Tekanan Biaya
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku farmasi. Namun, Kalbe masih memiliki bantalan berupa persediaan yang dapat meredam tekanan tersebut.
"Namun, terdapat inventory buffer yang dapat mengoffset tekanan tersebut dalam jangka pendek," ujar Harry kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).
Senada, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Jessica Leonardy mencatat sekitar 50% eksposur valuta asing Kalbe menggunakan dolar AS. Berdasarkan analisis sensitivitas manajemen, setiap pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS berpotensi memangkas gross profit margin (GPM) sekitar 0,1%.
Meski demikian, tekanan terhadap biaya produksi diperkirakan baru lebih terasa pada semester II-2026. Kalbe masih memiliki persediaan bahan baku sekitar 120 hari atau setara empat bulan, sehingga mampu menahan dampak kenaikan harga impor dalam beberapa waktu ke depan.
Jessica juga menyoroti bahwa API dan bahan kemasan menyumbang sekitar 70%–75% dari biaya produksi atau sekitar 35% dari total harga pokok penjualan (COGS). Untuk mengurangi risiko tersebut, Kalbe memperbesar stok bahan baku sekaligus mendiversifikasi sumber pasokan.
Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Bukukan Laba Dua Digit, Ini Rekomendasinya
Dalam risetnya, OCBC Sekuritas memperkirakan margin laba kotor Kalbe turun menjadi sekitar 38% pada 2026 akibat kenaikan harga API, terutama untuk produk parasetamol dan obat saluran pencernaan, serta pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor.
Selain bahan baku, kenaikan harga minyak juga diperkirakan meningkatkan biaya distribusi. Namun, manajemen menilai kenaikan biaya logistik tersebut masih dapat dikelola.
Untuk menjaga profitabilitas, Kalbe menjalankan sejumlah strategi, mulai dari menaikkan harga secara selektif pada produk Consumer Health dan Nutrisi, mendiversifikasi mata uang pembayaran impor, hingga meningkatkan efisiensi operasional melalui pengendalian beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A).
Di sisi lain, ruang kenaikan harga jual masih terbatas pada segmen obat, baik generik bermerek maupun generik tanpa merek. Hal itu dipengaruhi negosiasi harga dengan rumah sakit yang masih cukup ketat meski pemerintah telah melonggarkan regulasi penetapan harga.
Kondisi serupa juga terjadi pada segmen Consumer Health.
Sementara pada bisnis Nutrisi, Kalbe terus merapikan portofolio produknya dengan mengutamakan produk yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dan sejalan dengan tren gaya hidup sehat, seperti Fitbar, Hydro Coco, serta susu premium Morinaga.
Produk-produk tersebut memberikan ruang yang lebih besar untuk menaikkan harga sehingga secara konsolidasi mampu mendorong kenaikan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) sekitar 5% secara tahunan.
Baca Juga: Ekspansi Regional Dorong Prospek Saham Kalbe Farma (KLBF), Ini Rekomendasinya
Prospek bisnis Kalbe juga masih ditopang sejumlah katalis positif. Inflasi yang tetap terkendali dan peluang penurunan suku bunga dinilai dapat meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga mendukung permintaan produk kesehatan dan nutrisi.
Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap preventive healthcare, ekspansi produk baru, serta penguatan merek di kalangan Generasi Z diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan penjualan perseroan.
Dari sisi kinerja, OCBC Sekuritas memproyeksikan pendapatan Kalbe mencapai Rp 37,92 triliun pada 2026, tumbuh 7,3% secara tahunan dari realisasi 2025 sebesar Rp 35,32 triliun. Laba bersih diperkirakan naik lebih moderat menjadi Rp 3,75 triliun atau tumbuh sekitar 2,2% dibandingkan Rp 3,67 triliun pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Peluang Menarik Saham Kalbe Farma (KLBF) di Tengah Penurunan Harga
Di tengah tekanan tersebut, mayoritas analis masih optimistis terhadap prospek saham KLBF. Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.000 per saham.
OCBC Sekuritas juga tetap memberikan rekomendasi buy, meski memangkas target harga menjadi Rp 1.000 per saham. Sementara itu, Ciptadana Sekuritas merekomendasikan hold dengan target harga Rp 820 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Kalbe Farma
- pelemahan rupiah
- rekomendasi saham
- saham KLBF
- Laporan Keuangan KLBF
- Prospek KLBF 2026
- Rekomendasi Saham KLBF
- Target Harga KLBF
- Investasi Saham Farmasi
- analisis saham KLBF
- harga saham KLBF
- Margin Laba KLBF
- Katalis KLBF
- Sektor Farmasi Indonesia
- Samuel Sekuritas KLBF
- OCBC Sekuritas KLBF
- Ciptadana Sekuritas KLBF














