kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

KLBF Hadapi Tekanan Rupiah dan Biaya Bahan Baku, Begini Rekomendasi Analis


Kamis, 09 Juli 2026 / 17:33 WIB
KLBF Hadapi Tekanan Rupiah dan Biaya Bahan Baku, Begini Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. PT Kalbe Farma Tbk KLBF (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) hingga akhir 2026 dinilai masih cenderung positif meski menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Tekanan yang terjadi akibat pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berdampak terhadap kinerja KLBF. Kondisi tersebut diperkirakan akan membebani margin laba perseroan karena tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku aktif farmasi atau active pharmaceutical ingredients (API). Saat ini, sekitar 40% bahan baku Kalbe berasal dari bahan kimia, sementara mayoritas API masih diimpor dan baru sekitar 20% yang dapat diproduksi di dalam negeri.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways pada Jumat (10/7), Ini Rekomendasi Analis

"Namun, terdapat inventory buffer yang dapat mengoffset tekanan tersebut dalam jangka pendek," ujar Harry kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Hal yang sama dicermati oleh Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy. Jessica mencatat sekitar 50% eksposur valuta asing Kalbe menggunakan dolar AS. Berdasarkan analisis sensitivitas manajemen, setiap pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS akan mengurangi gross profit margin (GPM) sekitar 0,1%.

Namun, dampak kenaikan biaya bahan baku impor diperkirakan baru akan lebih terasa pada semester II-2026. Hal ini karena Kalbe masih memiliki persediaan bahan baku sekitar 120 hari atau setara empat bulan, sehingga memberikan bantalan terhadap kenaikan biaya dalam jangka pendek.

Jessica juga mencatat bahwa API dan bahan kemasan menyumbang sekitar 70%-75% dari biaya produksi barang (Cost of Goods Manufactured/COGM), atau sekitar 35% dari total harga pokok penjualan (COGS) Untuk mengurangi risiko tersebut, Kalbe memperbesar stok bahan baku sekaligus mendiversifkasi sumber pasokannya.

"Dengan mempertimbangkan kenaikan harga API-khususnya untuk parasetamol dan obat-obatan saluran pencernaan-serta pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor, analis memperkirakan margin laba kotor Kalbe turun menjadi sekitar 38% pada 2026 dibanding tahun sebelumnya," jelas Jessica dalam riset 15 Juni 2026.

Tak sampai situ saja, selain memengaruhi harga API, kenaikan harga minyak yang terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya distribusi. Namun, menurut manajemen, kenaikan biaya logistik tersebut masih relatif dapat dikelola.

Untuk menjaga profitabilitas, Kalbe menjalankan sejumlah strategi, antara lain menaikkan harga secara selektif pada beberapa produk Consumer Health dan Nutrisi, mendiversifikasi mata uang pembayaran impor, serta meningkatkan efisiensi operasional melalui pengendalian beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A)

Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas, Alif Ihsanario, mencermati ruang untuk menaikkan harga jual rata-rata (ASP) masih sangat terbatas, baik pada obat generik bermerek maupun generik tanpa merek. Hal ini disebabkan upaya rumah sakit mempertahankan harga melalui negosiasi kontrak, meskipun pemerintah telah melonggarkan regulasi penetapan harga. Kondisi serupa juga terjadi pada segmen Consumer Health. 

Sementara itu, pada segmen Nutrisi, Kalbe sedang menata ulang portofolio produknya dengan memprioritaskan produk yang memiliki pertumbuhan lebih baik dan terkait gaya hidup sehat, seperti Fitbar dan Hydro Coco, susu anak Morinaga premium. 

Produk-produk tersebut memberikan ruang lebih besar untuk menaikkan harga, sehingga secara konsolidasi perusahaan mampu mencatat kenaikan ASP hingga sekitar 5% secara tahunan.

Menurut Harry, terdapat sejumlah katalis yang masih berpotensi menopang kinerja fundamental Kalbe. Dari sisi makro, inflasi yang tetap terkendali dan peluang penurunan suku bunga berpotensi mendorong perbaikan daya beli masyarakat sehingga mendukung permintaan produk consumer health dan nutrisi.

Selain itu, tren masyarakat yang semakin mengutamakan pencegahan penyakit (preventive healthcare) juga dinilai akan menjadi pendorong pertumbuhan penjualan. Di tingkat perusahaan, ekspansi ke portofolio produk baru serta strategi memperkuat brand awareness di kalangan Generasi Z juga menjadi katalis positif bagi pertumbuhan bisnis.

Dari sisi kinerja keuangan, Jessica memproyeksi pendapatan KLBF diperkirakan meningkat menjadi Rp 37,92 triliun pada 2026, naik sekitar 7,3% YoY dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 35,32 triliun.

Sementara itu, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 3,75 triliun pada 2026, atau tumbuh cenderung moderat, sekitar 2,2% YoY dibandingkan laba bersih 2025 yang sebesar Rp 3,67 triliun.

Dengan berbagai faktor di atas Harry tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KLBF dengan target harga sebesar Rp 1.000 per saham.

Sementara itu Jessica masih mempertahankan rekomendasi buy KLBF tetapi dengan target harga diturunkan jadi Rp 1.000 per saham. Ada pun Alif merekomendasikan hold KLBF dengan target harga Rp 820 per saham.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×