Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin menyusut. Pada perdagangan Kamis (9/7/2026), nilai transaksi saham hanya mencapai Rp 11,38 triliun. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,67% ke level 5.912,44.
Lesunya transaksi sebenarnya sudah berlangsung lebih dari sepekan. Sejak awal Juli, nilai transaksi harian di pasar saham hanya bergerak di kisaran Rp 9 triliun hingga Rp 10 triliun, meski IHSG beberapa kali menguat tajam.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), misalnya, IHSG justru merosot 1,89%. Namun nilai transaksi hanya mencapai Rp 10,54 triliun. Di saat yang sama, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp 689,80 miliar.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian atau average daily trading value sepanjang tahun berjalan juga terus menurun. Per 8 Juli 2026, nilainya turun menjadi Rp 23,49 triliun dari Rp 24,07 triliun pada 1 Juli.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,67% ke 5.912 pada Kamis (9/7), DEWA, BRPT, ESSA Top Gainers LQ45
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia Irvan Susandy mengatakan kondisi pasar saat ini dipengaruhi berbagai faktor. Selain sentimen global, maraknya penawaran umum perdana saham atau IPO juga memengaruhi aktivitas perdagangan.
"Kondisi pasar saat ini memang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tensi global hingga maraknya IPO besar-besaran. Namun, kami tetap menjalankan seluruh rencana yang telah disusun sejak awal tahun," jelas Irvan, Rabu (8/7).
Irvan mengatakan BEI tetap fokus memperdalam pasar melalui pengembangan berbagai instrumen investasi. BEI mengincar peluncuran ETF Gold pada semester kedua tahun ini.
"Apa pun kondisi pasarnya, kami harus tetap mampu menyediakan infrastruktur yang baik, menghadirkan produk yang menarik, serta terus melakukan pendalaman pasar," ujarnya.
Meski begitu, Irvan masih optimistis likuiditas pasar domestik masih berpotensi meningkat. Mengingat nilai transaksi BEI pernah menyentuh senilai Rp 34 triliun per hari.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk: Ditutup Melemah ke Rp 18.128 Per Dolar AS, Koreksi Terdalam di Asia
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengatakan, sepinya transaksi lebih banyak dipengaruhi dana investor domestik yang sementara tertahan pada sejumlah IPO. Fenomena tersebut terlihat dari tingginya tingkat kelebihan permintaan beberapa emiten baru.
"JELI oversubscribed hampir 300 kali dari porsi pooling, sedangkan PRDL sekitar 700 kali yang menyita dana investor sekitar Rp 14 triliun–Rp 15 triliun. Jadi uang investor masih tertahan di IPO," katanya, Kamis (9/7/2026).
Selain itu, kata Bernadus, investor juga masih menunggu kepastian sejumlah sentimen global, mulai dari perkembangan konflik geopolitik hingga hasil penilaian outlook peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor's (S&P).
Dia bilang tipisnya aksi jual investor asing menunjukkan pelaku pasar global juga masih memilih menunggu. Sementara investor domestik lebih banyak memutar dana untuk mengikuti rangkaian IPO yang berlangsung berdekatan.
"Kalau yang lokal kesedot IPO, sedangkan asing masih wait and see. Nanti setelah IPO selesai dan hasil outlook S&P keluar, mudah-mudahan transaksi bisa kembali bergairah," ujar Bernadus.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan penyusutan nilai transaksi menunjukkan keyakinan pelaku pasar terhadap arah pergerakan IHSG masih rendah.
Liza bilang situasi ini mencerminkan banyak pelaku pasar memilih mengurangi aktivitas perdagangan, menahan kas, atau hanya berinvestasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang likuid.
Baca Juga: Analis: Emas Jangka Pendek Sedang Diskon, Saatnya Buy on Weakness
"Banyak investor cenderung mengurangi trading, menahan cash, atau hanya masuk ke saham-saham paling likuid yang memiliki fundamental, tata kelola, arus kas, dan dividen yang lebih kuat," tuturnya belum lama ini.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan sebagian investor juga masih bersikap wait and see karena belum melihat tanda-tanda perbaikan kondisi pasar dalam waktu dekat.
Menurut Nico, kondisi tersebut membuat sebagian dana berpotensi beralih ke instrumen berpendapatan tetap. ORI030 menjadi salah satu alternatif karena menawarkan kupon yang menarik bagi investor dengan profil risiko rendah hingga menengah.
"ORI030 bisa menjadi oase di tengah gersangnya IHSG. Instrumen ini menjadi alternatif menarik bagi investor sambil menunggu kepastian arah pasar saham," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














