Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membagikan dividen tunai sebesar Rp 936,26 miliar atau Rp 20 per saham dari laba bersih tahun buku 2025. Nilai dividen ini menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir, meski laba bersih perseroan tumbuh 13,09% secara tahunan menjadi Rp 3,66 triliun.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, kebijakan dividen tersebut mencerminkan langkah konservatif manajemen di tengah tekanan eksternal, bukan penurunan kualitas bisnis.
“Payout ratio turun ke kisaran 26%, di bawah guidance sebelumnya 50%-60%. Ini lebih tepat dilihat sebagai upaya menjaga fleksibilitas keuangan di tengah pelemahan rupiah dan tekanan biaya bahan baku impor,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Reksadana Saham Berpeluang Rebound, Volatilitas Masih Membayangi
Menurutnya, kombinasi pertumbuhan laba yang solid dengan payout ratio yang lebih rendah menunjukkan perseroan memprioritaskan penguatan kas untuk mendukung kebutuhan ekspansi ke depan.
Meski demikian, ia mengakui kebijakan ini berpotensi mengurangi daya tarik dividen dalam jangka pendek bagi sebagian investor.
Di sisi lain, strategi perseroan yang menahan sebagian besar laba dinilai memiliki dasar yang kuat, terutama untuk mendukung ekspansi tanpa ketergantungan pada pendanaan eksternal.
“Laba ditahan memberi ruang untuk investasi kapasitas produksi, pengembangan produk margin tinggi, serta ekspansi distribusi. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada eksekusi dan kontribusinya terhadap pertumbuhan laba ke depan,” jelasnya.
Untuk menjaga profitabilitas, KLBF dinilai perlu fokus pada optimalisasi bauran produk ke segmen dengan margin lebih tinggi, seperti nutrisi dan consumer health.
Baca Juga: PT SMI Terbitkan Obligasi Ritel Rp 150 Miliar, DBS Jadi Penjamin Emisi Utama
Langkah ini dinilai penting untuk meredam tekanan biaya bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
“Di kuartal I-2026, beban pokok penjualan naik 15,5%, lebih tinggi dari pertumbuhan penjualan 10,1%, sehingga margin kotor tergerus ke 38,3%,” paparnya.
Selain itu, efisiensi rantai pasok dan penguatan penggunaan bahan baku lokal juga menjadi faktor kunci dalam menjaga margin di tengah daya beli yang masih melemah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













