Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penawaran Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 dinilai menjadi momentum bagi investor untuk memperkuat porsi aset pendapatan tetap. Namun, investor diingatkan agar tidak menempatkan seluruh dananya pada instrumen tersebut.
Untuk diketahui, ORI030 dapat dibeli oleh investor mulai periode 6 hingga 30 Juli 2026. Instrumen ini menawarkan kupon tetap sebesar 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7,00% untuk tenor enam tahun. Ada pun target penerbitan SBN ritel ini mencapai Rp 20 triliun.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, mengatakan, ORI030 sebaiknya diposisikan sebagai porsi inti (core fixed income allocation) dalam portofolio, bukan sebagai pengganti seluruh instrumen investasi lainnya.
Baca Juga: Belanja Masyarakat Melandai, Investor Perlu Cermati Dampaknya ke Emiten Konsumer
"Strategi investasi sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu instrumen, tetapi disesuaikan dengan tujuan investasi, profil risiko, serta kebutuhan likuiditas," ujar Domingus kepada Kontan, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, kupon ORI030 tergolong kompetitif di tengah kondisi pasar saat ini. Setelah memperhitungkan pajak, imbal hasil bersih ORI030 dinilai lebih menarik dibandingkan deposito, terlebih instrumen ini dijamin pemerintah sehingga memiliki risiko kredit yang sangat rendah.
Adapun dibandingkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Domingus menilai kedua instrumen memiliki karakteristik yang berbeda. SRBI lebih sesuai bagi investor institusi yang membutuhkan instrumen jangka pendek dan mengikuti dinamika suku bunga, sedangkan ORI030 lebih cocok bagi investor yang ingin mengunci tingkat imbal hasil tetap dalam jangka menengah hingga panjang.
Sementara terhadap obligasi pemerintah di pasar sekunder, daya tariknya bergantung pada valuasi masing-masing seri. Menurut Domingus, apabila terdapat SBN yang diperdagangkan dengan yield lebih tinggi atau harga di bawah nilai wajarnya, instrumen tersebut masih dapat menjadi alternatif investasi.
Meski demikian, Domingus memperkirakan penerbitan ORI030 akan meningkatkan persaingan penghimpunan dana di pasar keuangan selama masa penawaran berlangsung.
Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Selektif, Ini Rekomendasi Saham Pilihan
Ia menilai kompetisi tersebut terutama akan terjadi di kelompok instrumen pendapatan tetap, seperti deposito, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap jangka pendek, serta SBN ritel lainnya.
"Potensi fund competition cukup besar. Namun dampaknya tidak akan ekstrem karena masing-masing instrumen memiliki basis investor yang berbeda," katanya.
Menurut Domingus, sumber dana pembelian ORI030 diperkirakan berasal dari deposito yang telah jatuh tempo, dana menganggur (idle cash), sebagian dana reksadana pasar uang, hingga investor yang semula berencana membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Instrumen yang paling terdampak diperkirakan adalah deposito dengan bunga relatif rendah dan reksadana pasar uang, karena investor akan membandingkan tingkat imbal hasil bersih setelah pajak.
Sebaliknya, dampak terhadap pasar saham diperkirakan relatif terbatas mengingat karakter investor ORI berbeda dengan investor saham yang lebih berorientasi mengejar capital gain.
Lebih lanjut, Domingus menyarankan investor memanfaatkan momentum penerbitan ORI030 untuk membangun portofolio yang lebih seimbang melalui diversifikasi aset.
Bagi investor konservatif, ia merekomendasikan alokasi sekitar 50%–70% dana pada SBN seperti ORI030, 20%–30% pada deposito atau reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, sedangkan sisanya ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap lainnya.
Baca Juga: ORI030 Tawarkan Kupon Hingga 7%, Ekonom: Masih Kompetitif di Tengah Gejolak Pasar
Sementara investor moderat dapat mengalokasikan 40%–50% dana pada SBN, 20%–30% pada obligasi korporasi berperingkat investment grade, serta 20%–30% pada saham atau reksadana saham guna memperoleh potensi pertumbuhan jangka panjang.
Adapun investor agresif tetap dapat menjadikan ORI030 sebagai komponen defensif sekitar 20%–30%, sedangkan porsi terbesar portofolio tetap ditempatkan pada aset berisiko seperti saham.
Domingus menegaskan, kebutuhan likuiditas sebaiknya tetap dipenuhi melalui deposito atau reksa dana pasar uang, sedangkan potensi pertumbuhan nilai investasi tetap berasal dari saham maupun obligasi korporasi.
"Pendekatan diversifikasi akan membantu investor memperoleh keseimbangan antara yield, likuiditas, dan potensi pertumbuhan nilai investasi," tutup Domingus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














