kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Rupiah Diproyeksi Volatil di Kuartal III-2026, Terbebani Sentimen Fiskal & Suku Bunga


Selasa, 07 Juli 2026 / 17:59 WIB
Rupiah Diproyeksi Volatil di Kuartal III-2026, Terbebani Sentimen Fiskal & Suku Bunga
ILUSTRASI. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,08% ke level Rp 17.980 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat Rp 15 atau 0,08% ke level Rp 17.980 per dolar AS pada Selasa (7/7/2026), dari posisi penutupan di Senin (6/7/2026) di Rp 17.995 per dolar AS.

Sementara itu, pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah menguat Rp 11 atau 0,06% menjadi Rp 17.988 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.999 per dolar AS.

Meski ditutup menguat, memasuki kuartal III 2026, otot mata uang Garuda masih akan diuji oleh tarikan dua kutub, yakni sentimen global dan tekanan struktural dari dalam negeri.

Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Akuisisi Saham Anak Usaha CUAN, Simak Rekomendasinya

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi bilang, sentimen global masih didominasi oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan peningkatan risiko geopolitik yang berdampak langsung pada harga energi.

"Ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan dipertahankan di level tinggi demi menjinakkan inflasi terus menjaga keperkasaan indeks dolar AS (DXY) dan memicu capital outflow dari pasar keuangan domestik," ujar Rahma kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).

Selain faktor The Fed dan risiko geopolitik di Selat Hormuz, pasar kini sangat mencermati stabilitas fiskal nasional pasca-rapor negatif dari Fitch Ratings serta pelemahan indeks produksi manufaktur.

Ekonom BCA David Sumual menambahkan, perlambatan pertumbuhan PDB menjadi faktor risiko makro terbesar yang akan memengaruhi rupiah pada kuartal III-2026.

"Saat ini tampak terdapat trade-off antara stabilitas nilai tukar dan laju pertumbuhan PDB, akibat mesin pertumbuhan Indonesia yang semakin bergantung pada permintaan dan investasi sektor publik, sedangkan pasar cenderung lebih mengapresiasi upaya efisiensi belanja fiskal," ungkap David kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).

Di sisi lain, Ekonom FEB UI Telisa Aulia Falianty menilai pelaku pasar masih menerka-nerka kinerja ekonomi seiring penantian pembaruan outlook dari lembaga pemeringkat S&P.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.980: Ditopang Capital Inflow ke Pasar SUN, Simak Proyeksinya

Tren rupiah sepanjang kuartal III 2026 diperkirakan bergerak relatif stabil namun tetap dilingkupi volatilitas tinggi karena keterbatasan ruang intervensi Bank Indonesia di tengah ketatnya likuiditas perbankan.

Mengenai rentang pergerakan kurs, para analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di level keseimbangan baru.

"Jika situasi geopolitik benar-benar mereda, seharusnya rupiah bisa menguat ke kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.800 per dolar AS," tutur Telisa kepada Kontan, Selasa (7/72026).

Namun, David memperkirakan isu fundamental dan defisit transaksi berjalan masih menahan rupiah di sekitar level Rp 17.700 hingga Rp 18.200 per dolar AS. Guna menghadapi ketidakpastian ini, investor disarankan untuk mulai diversifikasi ke aset non-dolar serta mengoptimalkan instrumen lindung nilai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×