kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

SBN Ritel ORI030 Tawarkan Kupon Hingga 7%, Target Penerbitan Capai Rp 20 Triliun


Minggu, 05 Juli 2026 / 14:47 WIB
SBN Ritel ORI030 Tawarkan Kupon Hingga 7%, Target Penerbitan Capai Rp 20 Triliun
ILUSTRASI. Suasana Dealing Room SBN di Bank Negara Indonesia (BNI) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menawarkan SBN ritel Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 mulai 6 Juli – 30 Juli 2026. Target penerbitan SBN ritel ini mencapai Rp 20 triliun. 

Novi Puspita Wardani, Direktur Surat Utang Negara, DJPPR Kemenkeu mengatakan, ORI030 ditawarkan dalam dua pilihan tenor yakni tenor 3 tahun dan tenor 6 tahun. Kupon ORI030 tenor 3 tahun sebesar 6,90% dan tenor 6 tahun dengan kupon 7,00%. Jenis kupon ini fixed rate dan bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. 

“Target indikatif penerbitan ORI030 sebesar Rp 20 triliun. Namun target ini dapat disesuaikan seiring dengan progres penjualan ORI030 dan perkembangan kondisi pasar keuangan,” ujar Novi kepada Kontan, Minggu (5/7/2026). 

Baca Juga: Jelang IPO Ditutup, BACH Dinilai Miliki Valuasi Lebih Rendah dari Industri

Novi menyampaikan bahwa pemerintah akan menjaga minat investasi di ORI030 melalui komunikasi yang terukur, edukasi yang lebih luas, serta penguatan sinergi dengan mitra distribusi agar masyarakat semakin memahami manfaat berinvestasi di SBN Ritel.

Selain itu, Pemerintah juga terus menjaga kepercayaan investor melalui pengelolaan APBN dan SBN yang prudent, disiplin, dan terukur, sehingga investor melihat ORI sebagai instrumen yang diterbitkan dalam kerangka kebijakan yang kredibel dan berkelanjutan. 

Dari sisi pemasaran, Pemerintah fokus memperluas jangkauan investor ritel, memperkuat literasi mengenai manfaat investasi SBN, serta menekankan kemudahan pembelian melalui kanal digital. 

“ORI030 memiliki daya tarik utama sebagai instrumen investasi yang aman karena dijamin oleh Undang-Undang, kupon tetap yang kompetitif, kupon dibayarkan secara bulanan sehingga menjaga arus kas, risiko yang relatif rendah, serta fleksibilitas untuk diperdagangkan di pasar sekunder setelah masa minimum kepemilikan,” jelas Novi. 

Selain itu, salah satu seri ORI030 yaitu ORI030T6 merupakan SDG Bond Ritel, sehingga investasi pada ORI030 juga berkontribusi mendukung pembiayaan program-program pembangunan yang berkelanjutan. 

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, prospek kupon SBN ritel pada semester II-2026 cenderung lebih tinggi atau setidaknya tetap kompetitif karena tekanan yield belum mereda kuat.

Baca Juga: IPO RANS Masih Berlangsung, PER Lebih Murah dari Industri Tapi Awas Risikonya

Pasar pendapatan tetap masih menunjukkan biaya modal mahal, dengan BI Rate berada di 5,75%, yield obligasi pemerintah tenor pendek-menengah tinggi, dan risiko sovereign belum turun merata. 

“Ini berarti pemerintah perlu menawarkan kupon yang cukup menarik agar SBN ritel tetap terserap, khususnya jika investor punya alternatif deposito, obligasi korporasi, reksa dana pendapatan tetap, atau SBN seri sebelumnya,” ujar Syafruddin. 

Faktor lain yang menopang kupon tinggi ialah rupiah yang masih rentan, defisit perdagangan Mei sebesar US$ 1,61 miliar, ekspor yang turun, impor yang naik, serta inflasi Juni 3,34%. Selama kombinasi ini belum membaik, pasar akan meminta kompensasi risiko lebih besar.

“Karena itu, kupon SBN ritel semester II-2026 kemungkinan tetap berada pada level menarik, terutama untuk seri fixed rate baru, selama pemerintah ingin menjaga minat investor ritel dan memperluas basis pembiayaan domestik,” kata Syafruddin. 

Syafruddin menyebut, SBN ritel masih menarik sebagai salah satu portofolio investasi di tengah tren suku bunga naik, tetapi daya tariknya harus dibaca lebih selektif. Ketika yield SBN naik, investor ritel memperoleh peluang membeli instrumen negara dengan kupon lebih tinggi, risiko gagal bayar relatif rendah, dan arus kas kupon yang lebih pasti. Data pasar terbaru menunjukkan biaya dana negara masih mahal. 

Meski begitu, investor tidak boleh melihat SBN ritel sebagai instrumen tanpa risiko pasar. Untuk SBN ritel yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, harga bisa turun jika yield naik lagi. Untuk seri yang tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder, investor perlu siap memegang hingga jatuh tempo atau memanfaatkan fasilitas early redemption. 

Baca Juga: Bundamedik (BMHS) Ekspansi di RSU Bunda Padang, Hadirkan Bedah Robotik

“Jadi, SBN ritel tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan tetap, stabilitas, dan diversifikasi, tetapi pembelian perlu disesuaikan dengan tenor, kebutuhan likuiditas, dan ekspektasi arah suku bunga,” terang Syafruddin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×