Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) resmi menjadi perusahaan ketiga yang mencatatkan sahamnya pada 2026 pada Selasa (7/7/2026).
Dalam perdagangan perdana, saham JECX sukses menguat hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
JECX membuka perdagangan Selasa (7/7) dengan melesat 24,80% ke posisi Rp 1.650 per saham. Adapun perusahaan pengelola jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics ini menetapkan harga IPO sebesar Rp 1.300.
Presiden Direktur Nitrasanata Dharma Johan A. M. M. Hutauruk menjelaskan sepanjang masa penawaran umum, JECX memperoleh respons positif dari investor yang mencerminkan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Pengelola Jakarta Eye Center Nitrasanata Dharma (JECX) Gelar IPO Incar Rp 683 Miliar
“Ini tercermin berdasarkan tingkat permintaan yang mengalami kelebihan atau oversubscribed sebesar 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat dengan jumlah pemesan mencapai 555.699 investor,” katanya, Selasa (7/7).
Adapun emiten yang masuk dalam sektor kesehatan ini menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham baru. Jumlah itu setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.
Dalam aksi korporasi, JECX juga menawarkan 162,88 saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mewakili 2% dari modal ditempatkan disetor pasca penawaran umum saham.
Dengan demikian, dana dari IPO yang berpotensi dikantongi JEXC mencapai Rp 609,97 miliar. Ini terdiri dari Rp 406,65 miliar dari penerbitan saham baru dan Rp 203,32 saham hasil divestasi.
Ke depan, kata Johan, manajemen JECX akan terus memperkuat strategi pertumbuhan berbasis continuum of care, melalui pengembangan layanan primer, sekunder hingga tersier.
Baca Juga: Nitrasanata Dharma (JEXC) Pasang Harga IPO di Rp 1.250, Bakal Raup Rp 609 Miliar
“Ini mencakup perluasan jangkauan layanan, pengembangan layanan subspesialistik, pemanfaatan teknologi medis terkini serta transformasi digital yang terintegrasi,” jelasnya.
Asal tahu saja, jaringan JECX telah mencapai 5 rumah sakit spesialis mata dan 11 klinik utama yang tersebar di Jadetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














