kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Imlek dan Ramadan, Momen Racik Ulang Portofolio Investasi?


Minggu, 15 Februari 2026 / 12:48 WIB
Imlek dan Ramadan, Momen Racik Ulang Portofolio Investasi?
ILUSTRASI. (Dok/Albert) Momen imlek dan Ramadhan Ini disebut dapat menjadi salah satu momen meracik ulang portofolio investasi. ?


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah hari besar keagamaan seperti Imlek dan bulan Ramadan tercatat jatuh pada Februari 2026. Momen ini disebut dapat menjadi salah satu momen meracik ulang portofolio investasi. 

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, momen perayaan besar seperti Imlek dan Ramadan bukan sekadar seremoni budaya. Akan tetapi juga memiliki dampak psikologis dan likuiditas yang nyata di pasar keuangan Indonesia.

“Kedua momen ini sangat relevan untuk meracik ulang (rebalancing) portofolio karena adanya fenomena musiman,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).

Wahyu melihat adanya efek psikologis dan likuiditas. Menjelang Ramadan dan Lebaran, konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Di pasar modal, sering terjadi tekanan jual karena investor ritel mencairkan dana untuk kebutuhan hari raya (fenomena "uang saku"). Ini bisa menjadi kesempatan bagi investor jangka panjang untuk buy on weakness.

Kemudian, terkait rotasi sektor. Wahyu mengatakan bahwa Imlek sering dikaitkan dengan sentimen positif awal tahun. Sementara Ramadan mendorong performa sektor Consumer Goods, Ritel, dan Transportasi. 

Baca Juga: BRI Danareksa Proyeksi Pasar Modal Menguat pada Tahun 2026, Ini Sentimen Pendorongnya

“Jika portofolio Anda terlalu berat di sektor yang sedang jenuh, ini adalah waktu yang tepat untuk beralih ke sektor yang mendapat booster dari belanja musiman,” terang Wahyu. 

Mengingat dinamika suku bunga global yang mulai melandai namun ketidakpastian geopolitik masih ada, Wahyu melihat sejumlah instrumen cukup menarik untuk dicermati. Antara lain Obligasi Negara (SBN/ORI/SR). Obligasi negara terbilang sangat menarik jika ingin mengunci yield tinggi sebelum suku bunga benar-benar turun lebih dalam.

Kemudian, emas. Sebagai safe haven dan lindung nilai terhadap inflasi, emas tetap relevan dalam porsi kecil (5% - 10%) untuk menjaga volatilitas portofolio. Bagi investor tradisional atau awam yang paling umum adalah membeli emas. Lalu, reksadana pasar uang (RDPU). RDPU dinilai menjadi pilihan terbaik untuk menyimpan dana darurat atau dana jangka pendek yang likuid menjelang kebutuhan Lebaran.

Serta saham blue chip (sektor perbankan dan konsumer). Wahyu melihat saham perbankan tetap solid karena margin bunga yang terjaga, sementara emiten konsumer (seperti ICBP, MYOR) diuntungkan oleh daya beli saat Ramadan.

Samuel Kesuma, Chief Investment Officer Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, salah satu sentimen yang perlu dicermati dalam berinvestasi adalah pergerakan pertumbuhan ekonomi. International Monetary Fund (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 untuk berbagai kawasan di dunia. Salah satunya karena fondasi pertumbuhan ekonomi 2025 yang di tengah kenaikan signifikan tarif perdagangan dunia, ternyata tidak seburuk perkiraan awal. 

“Hal itu salah satunya ditopang oleh komponen investasi, lebih spesifik adalah belanja modal korporasi terkait artificial intelligence (AI) yang meningkat pesat,” ujar Samuel kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).

Di tahun 2026 ini, Samuel memperkirakan siklus investasi teknologi terkait AI masih akan menjadi salah satu kontributor penopang pertumbuhan global. Peningkatan belanja modal di Amerika Serikat yang adalah salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan meningkat tahun ini, seiring berlakunya One Big Beautiful Bill Act (OBBBA) Presiden Donald Trump yang memberikan insentif pajak korporasi dan pelonggaran amortisasi belanja modal. 

“Dampak spillover revolusi AI tentunya akan dirasakan emiten-emiten teknologi global, terutama di Asia Utara, dan akan berperan penting bagi kinerja pasar saham global,” terang Samuel. 

Selain itu, Samuel meminta investor menyadari bahwa valuasi sektor teknologi yang sudah cukup tinggi akan rentan dengan volatilitas dan sentimen-sentimen jangka pendek. Namun secara keseluruhan, Samuel memperkirakan kondisi global tahun ini dapat menciptakan iklim suportif bagi pasar finansial, dengan tingkat pertumbuhan resilien, inflasi terjaga, kebijakan yang tetap akomodatif, dan maraknya investasi. 

“Semuanya diharapkan dapat cukup menjadi kompensasi potensi pelemahan perdagangan global,” ucap Samuel.

Baca Juga: Ini Sektor Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Imlek dan Ramadan

Selanjutnya: Prabowo Sebut Kinerja Menteri Positif, Pengamat: Masih Terlalu Dini

Menarik Dibaca: Rumah Terlihat Murahan karena Tanaman Palsu? Ini Kata Ahli Desainer Interior

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×