Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar pertemuan dengan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) guna membahas agenda reformasi integritas pasar modal.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah arah kebijakan peningkatan porsi saham beredar di publik (free float) sebagai bagian dari penguatan struktur pasar.
Hasan Hawzi, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, menyampaikan bahwa AEI memberikan dukungan luas terhadap rencana kebijakan tersebut.
“Tidak hanya terkait isu khusus terkait peningkatan free float, tetapi bahkan kami menerima berbagai aspek masukan lainnya dari AEI,” katanya di Gedung BEI, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga: IHSG Berpeluang Bergerak Mixed Cenderung Menguat Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis
Menurut Hasan, AEI mengusulkan agar penerapan kebijakan free float menjadi 7,5% dilakukan secara bertahap, terukur, dan hati-hati dengan mempertimbangkan kapasitas pasar serta risiko yang mungkin muncul selama masa transisi.
Selain isu free float, pembahasan juga mencakup aspek tata kelola dan transparansi kepemilikan saham. AEI memberikan masukan penting terkait penguatan transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO) serta peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1%.
Dalam pertemuan tersebut, OJK, BEI, dan AEI turut mendiskusikan penguatan program pendidikan berkelanjutan dan literasi keuangan bagi investor, termasuk peningkatan kompetensi berkelanjutan bagi para pengurus emiten.
“Bursa akan menyiapkan hot desk dan tim khusus untuk mendampingi emiten, serta memastikan transisi berjalan sehat tanpa disrupsi pasar,” jelas Hasan.
Ketua Asosiasi Emiten Indonesia, Armand Hartono, menegaskan bahwa AEI secara prinsip mendukung arah kebijakan regulator untuk meningkatkan porsi saham beredar hingga 15%.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 8.200 pada Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis
“Peningkatan free float dinilai sangat bergantung pada kemampuan pasar menyerap saham tambahan serta kecocokan antara profil emiten dan investor,” jelasnya.
Armand menambahkan, AEI juga menekankan pentingnya koordinasi berkelanjutan antara emiten, Self-Regulatory Organization (SRO), BEI, dan regulator agar proses transisi tidak mengganggu stabilitas pasar dalam upaya mewujudkan pasar modal Indonesia yang berkelas dunia.
Selanjutnya: Xi Jinping dan Vladimir Putin Lakukan Panggilan Video, Ini Isinya
Menarik Dibaca: Dorong Inovasi Sejak Dini, Sampoerna Academy Gelar Rangkaian STEAM 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













