Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laporan Tren Permintaan Emas kuartal IV 2025 dan sepanjang 2025 dari World Gold Council (WGC) mengungkapkan bahwa total permintaan emas dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 5.002 ton pada tahun 2025.
Kuartal keempat memecahkan rekor seiring berlanjutnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang mendorong lonjakan investasi emas dengan nilai tahunan mencapai US$ 555 miliar.
Menurut Head of Asia Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks WGC, Shaokai Fan, permintaan investasi global mencapai level bersejarah sebesar 2.175 ton dan menjadi pendorong utama di balik kinerja emas yang luar biasa sepanjang tahun.
Baca Juga: Harga Emas Antam Melonjak Rp 27.000 di Malam Ini (4/2), Jadi Rp 2.973.000 Per Gram
"Di seluruh dunia, bahkan investor yang mencari aset lindung nilai (safe haven) dan diversifikasi berbondong-bondong masuk ke ETF emas, dengan total penambahan 801 ton sepanjang tahun," ujar Shaokai dalam media briefing Gold Demand Trends Q4 & Full-Year 2025 di Jakarta (4/2/2026).
Adapun investor juga meningkatkan pembelian emas batangan dan koin, dengan permintaan global mencapai 1.374 ton atau setara US$ 154 miliar.
Dua pasar utama, yakni Tiongkok tumbuh 28% YoY dan India naik 17% YoY. Kondisi ini mencatatkan kenaikan signifikan dan menyumbang lebih dari 50% permintaan dalam kategori ini.
Di Indonesia sendiri, total permintaan emas konsumen mencapai 48,2 ton, mencerminkan pertumbuhan tahunan yang tetap kuat sebesar 2%.
"Meski pertumbuhan secara keseluruhan relatif moderat, pasar menunjukkan pergeseran yang signifikan ke arah produk investasi," tambahnya.
Baca Juga: Bank Sentral Global Terus Tambah Cadangan Emas, Efek Dedolarisasi?
Permintaan emas batangan dan koin melonjak 29% menjadi 31,6 ton, didorong oleh kuatnya kebutuhan akan perlindungan nilai kekayaan di tengah pelemahan mata uang domestik dan ketidakpastian ekonomi, serta terbatasnya daya tarik aset investasi alternatif selama periode volatilitas pasar.
WGC juga mencermati permintaan dari bank sentral tetap tinggi pada tahun 2025, dengan sektor resmi menambah 863 ton emas.
Meskipun permintaan tahunan berada di bawah ambang 1.000 ton yang terlampaui dalam tiga tahun sebelumnya, pembelian bank sentral tetap menjadi faktor penting yang menopang permintaan emas global.
Di tengah serangkaian rekor harga tertinggi, permintaan perhiasan global melemah sepanjang tahun sesuai perkiraan, turun 18% dibandingkan tahun 2024.
Namun, nilai total permintaan perhiasan emas justru meningkat 18% secara tahunan menjadi US$ 172 miliar, menegaskan relevansi emas bagi konsumen dalam jangka panjang.
Baca Juga: Harga Emas Sempat Tertekan, WGC: Koreksi Buka Peluang Akumulasi
Tren global ini juga tercermin di Indonesia, di mana permintaan perhiasan turun 27% menjadi 16,6 ton, yang disebabkan oleh tekanan harga dan keterbatasan daya beli ketimbang hilangnya minat konsumen terhadap emas, terbukti dengan total belanja untuk perhiasan emas yang justru naik 5% secara tahunan.
"Untuk menjaga aksesibilitas, konsumen Indonesia semakin beralih ke emas kadar rendah (di bawah 14 karat), sehingga tetap dapat memiliki emas di tengah kenaikan harga dan tekanan biaya hidup," jelasnya.
Terakhir, dalam laporan dipaparkan total pasokan emas mencatat rekor baru, didorong oleh kenaikan produksi tambang menjadi 3.672 ton dan peningkatan moderat dari daur ulang sebesar 3%.
Namun, meski harga emas tinggi, volume daur ulang tetap terbatas karena banyak investor dan rumah tangga memilih menyimpan emas mereka daripada menjualnya. Hal ini menunjukkan kepercayaan terhadap nilai jangka panjang emas.
Selanjutnya: KPK Sita Uang Tunai Milyaran Rupiah dan 3 Kg Logam Mulia saat OTT di Banjarmasin
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (5/2), Hujan Amat Deras di Provinsi Berikut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













