kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.946.000   102.000   3,59%
  • USD/IDR 16.791   6,00   0,04%
  • IDX 8.088   -34,41   -0,42%
  • KOMPAS100 1.135   -1,99   -0,18%
  • LQ45 824   0,40   0,05%
  • ISSI 286   -3,39   -1,17%
  • IDX30 431   0,81   0,19%
  • IDXHIDIV20 516   0,96   0,19%
  • IDX80 127   0,05   0,04%
  • IDXV30 141   0,00   0,00%
  • IDXQ30 139   -0,10   -0,07%

IHSG Berpotensi Turun Lagi ke Bawah Level 8.000 Jika Kesepakatan dengan MSCI Gagal


Rabu, 04 Februari 2026 / 09:27 WIB
IHSG Berpotensi Turun Lagi ke Bawah Level 8.000 Jika Kesepakatan dengan MSCI Gagal
ILUSTRASI. Kegagalan kesepakatan SRO-MSCI berisiko dorong IHSG ke 7.650 (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bertahan di bawah level 8.000 jika self regulatory organization (SRO) Tanah Air tak mampu mencapai kesepakatan dengan MSCI.

Asal tahu saja, pada Senin (2/2/2026), SRO Tanah Air menggelar pertemuan perdana dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) setelah penyedia indeks global tersebut meminta transparansi data pemegang saham emiten.

Permintaan transparansi data kepemilikan saham emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) di bawah 5% menyita perhatian pelaku pasar. Pasalnya, MSCI turut memberikan sanksi berupa interim freeze terhadap sejumlah perubahan terkait rebalancing indeks, termasuk indeks review periode Februari 2026.

Baca Juga: IHSG Menguat Pada Perdagangan Rabu (4/2/2026) Pagi, BRPT, UNTR, ADMR Top Gainers LQ45

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa sorotan MSCI sejalan dengan delapan rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia.

Delapan rencana aksi tersebut dikelompokkan dalam empat klaster utama, yakni kebijakan baru free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas. Dari delapan rencana aksi itu, BEI dan KSEI mengajukan tiga proposal solusi kepada MSCI, khususnya pada klaster transparansi.

Fokus utamanya adalah pengungkapan ultimate beneficial ownership (UBO) dan peningkatan likuiditas guna mendorong kebijakan free float baru di pasar modal Indonesia.

Pertama, membuka data kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5%. Ke depan, pembukaan data bahkan direncanakan bisa mencakup kepemilikan saham di atas 1%.

Kedua, menghadirkan rincian klasifikasi investor pada data yang selama ini dikelola di KSEI. Saat ini, klasifikasi hanya terbatas pada sembilan tipe investor utama.

“Nantinya, akan dirinci menjadi 27 sub-tipe investor yang akan lebih memunculkan klarifikasi dan juga kredibilitas pengungkapan UBO dari kepemilikan saham tersebut,” katanya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (2/2/2026).

Ketiga, merencanakan kenaikan free float dari ketentuan minimum saat ini 7,5% menjadi 15%.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani melihat, secara objektif, 8 agenda tersebut adalah "obat pahit" yang memang diperlukan pasar modal Tanah Air. 

“Apakah bisa menyehatkan? Secara fundamental, iya. Masalah utama bursa kita selama ini adalah ‘transparansi semu’, di mana konsentrasi kepemilikan sangat tertutup,” katanya kepada Kontan, Senin (2/2/2026).

Secara jangka pendek, langkah tersebut akan menimbulkan tekanan jual. Sebab, emiten dipaksa melepas saham ke publik. Padahal, jumlah emiten dengan free float di bawah 15% ada lebih dari 300 emiten, sementara daya serap pasar (likuiditas) sedang diuji. 

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Rabu (4/2/2026), Saham-Saham Ini Bisa Ditimbang

“Jadi, ini adalah proses ‘detoksifikasi’ dimana akan sakit di awal untuk kesehatan jangka panjang agar kita tidak lagi dicap sebagai pasar yang mudah dimanipulasi,” ungkapnya.

Pertemuan SRO dengan MSCI pada 2 Februari lalu dinilai Chory sebagai respon cepat terhadap gejolak yang setelah MSCI sempat membekukan peningkatan bobot Indonesia.

Jika MSCI menerima proposal ini, maka potensi mass exclusion (pendepakan massal) saham Indonesia dari indeks global bisa dihindari. Namun, pasar masih akan wait and see hingga ada pernyataan resmi dari MSCI. 

“Sentimen negatif mulai mereda, tapi investor belum akan agresif sebelum ada kepastian hitam di atas putih,” tuturnya.

Menurut Chory, fokusnya SRO terhadap pemberantasan saham gorengan merupakan salah satu bentuk dari transparansi yang diminta oleh MSCI. Free float bukan tongkat sihir untuk menaikkan harga, melainkan alat untuk mencegah monopoli pergerakan harga. 

“Semangatnya adalah transparansi. Biarkan pasar yang menentukan harga secara wajar, bukan segelintir orang di balik layar,” katanya.

Pada Selasa (3/2/2026), IHSG memang berhasil rebound dan ditutup menguat 2,52% ke level 8.122,60 pada akhir perdagangan. 

Namun, kata Chory, jika kesepakatan dengan MSCI gagal dan terjadi arus keluar dana asing besar-besaran, IHSG bisa menguji level support kuat di 7.650 – 7.700 pada akhir semester I 2026.

Sementara, target moderat IHSG di paruh pertama tahun ini ada di level 9.100 - 9.200. Tapi, ini dengan catatan reformasi bursa berjalan lancar dan suku bunga global mulai melandai.

“Investor diharapkan melakukan rebalancing portofolio dari saham yang valuasinya sudah terlalu mahal ke sektor yang lebih defensif atau yang diuntungkan dari kebijakan baru ini, seperti sektor perbankan,” tuturnya.

Selanjutnya: Aktivitas Jasa China Menguat pada Januari 2026, Perekrutan Tertinggi dalam 6 Bulan

Menarik Dibaca: IHSG Naik 0,3% Pada Rabu Pagi (4/2), Saham Grup Barito dan Bank Menguat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×