Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk mengerek ketentuan minimal saham beredar bebas atau free float dari 7,5% menjadi 15% dalam waktu dekat.
Seperti diketahui, OJK memang tengah menggodok kenaikan minimal free float saham di kisaran 10%–15%. Dalam skenarionya, kenaikan batas free float ini akan dilakukan secara bertahap.
Namun nampaknya sebagai respons atas permintaan dari MSCI, OJK mempercepat implementasi kenaikan minimal free float. Pasalnya, batas minimal 15% tergolong ambisius.
Baca Juga: OJK Bakal Lakukan Reformasi Menyeluruh di Pasar Modal Indonesia, Ini 3 Langkahnya
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar menuturkan Self-Regulatory Organization (SRO) akan menerbitkan aturan free float minimal 15% yang akan dikeluarkan dalam waktudekat, dan dengan transparansi yang baik.
“Dan bagi emiten atau perusahaan publik yang dalam jangka waktu tertentu, ditentukan nanti dalam pengaturan tersebut,” kata dia dalam konferensi pers di Gedung BEI, Kamis (29/1).
Mahendra bilang jika emiten tidak dapat memenuhinya, maka akan diberikan exit policy melalui proses pengawasan yang baik. Namun dia belum bisa memastikan exit policy apa yang akan diterapkan OJK.
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK menambahkan peningkatan batas free float ini membuka peluang memasukkan investor institusi domestik untuk memperkuat likuiditas pasar.
Baca Juga: Optimistis IHSG Tembus 10.000, Purbaya: Jangan Takut, Shock Pasar Hanya Sementara
Dia mencontohkan pengelola dana besar milik negara seperti Taspen maupun Asabri hingga Danantara bisa berpartisipasi dalam peningkatan likuiditas di pasar modal.
“Saya raya Danantara untuk meningkatkan likuiditas, tidak langsung menjadi liquidity provider tetapi melalui anak usahanya seperti Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas dan lainnya,” ucap Inarno.
Dalam catatan OJK, jika free float menjadi 15%, maka emiten yang sudah sesuai ada 673 emiten. Sisanya sebanyak 270 emiten belum memenuhi sehingga dana yang dibutuhkan sebesar Rp 203 triliun.
Selanjutnya: Lanskap Ritel Nasional, MR.D.I.Y. Ungkap Pergeseran Pola Belanja Permanen
Menarik Dibaca: Katalog Promo JSM Alfamidi Spesial Gajian Periode 29 Januari-1 Februari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












