Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap mulai menunjukkan tanda stabil setelah mengalami tekanan sejak awal tahun. Di tengah kondisi tersebut, tingkat yield obligasi yang masih relatif tinggi dinilai membuka peluang bagi investor.
Melansir data Infovesta, NAB industri reksadana pendapatan tetap tercatat Rp 209,91 triliun pada Agustus 2026. Angka tersebut turun tipis 0,02% dibandingkan posisi Juli 2026 yang sebesar Rp 209,96 triliun.
Meski mulai stabil, NAB reksadana pendapatan tetap masih berada di bawah level tertingginya tahun ini. NAB sempat mencapai Rp 254,88 triliun pada Februari 2026.
Baca Juga: Mau Dibeli Haji Isam, Direksi BYAN Ini Getol Jual Saham BYAN
Setelah itu, NAB turun menjadi Rp 241,19 triliun pada Maret, Rp 239,26 triliun pada April, Rp 231,01 triliun pada Mei, Rp 214,76 triliun pada Juni, dan Rp 209,96 triliun pada Juli.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, penurunan NAB tersebut tidak serta-merta membuat reksadana pendapatan tetap kehilangan daya tarik.
Menurutnya, investor juga perlu melihat level yield obligasi dan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga ke depan. Ketika pasar mulai melihat ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas, obligasi dengan yield yang sudah relatif tinggi dapat kembali menarik.
"Kenaikan yield saat ini tidak serta-merta membuat RDPT menjadi kurang menarik. Justru dari perspektif jangka menengah hingga panjang, level yield yang lebih tinggi dapat memberikan titik masuk yang lebih menarik," kata Reza kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Untuk diketahui, melansir data Trading Economics per 23 September 2026, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat sekitar 7,03%. Yield tersebut turun sekitar 0,09% secara harian dan sekitar 0,011% dalam sebulan.
Reza mengatakan, level yield yang lebih tinggi juga memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh capital gain apabila yield obligasi turun di kemudian hari. Namun, peluang tersebut tetap perlu memperhatikan durasi, kualitas kredit, dan risiko pasar.
"Investor juga berpeluang memperoleh capital gain apabila yield turun di kemudian hari," ujarnya.
Sementara itu, ke depan, pergerakan NAB reksadana pendapatan tetap akan dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan bank sentral global, pergerakan yield SBN, stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, serta arus dana investor.
Reza mengatakan, apabila tekanan yield mereda dan pasar melihat ruang stabilisasi suku bunga, daya tarik reksadana pendapatan tetap berpotensi meningkat. Namun, volatilitas tetap perlu diantisipasi jika tekanan kenaikan suku bunga global berlanjut.
Karena itu, pengelolaan portofolio perlu dilakukan secara selektif, terutama dalam memilih instrumen berkualitas, mengatur durasi, dan menjaga fleksibilitas menghadapi perubahan pasar.
"Yang lebih penting adalah bagaimana duration, kualitas kredit, dan entry point dikelola secara aktif," ujarnya.
Dengan NAB yang mulai melandai dan yield obligasi yang masih berada di level tinggi, pergerakan reksadana pendapatan tetap hingga akhir tahun akan turut bergantung pada arah yield dan ekspektasi suku bunga.
Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi investor untuk kembali mempertimbangkan instrumen pendapatan tetap, dengan tetap memperhatikan risiko fluktuasi pasar.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,56% ke 6.374 pada Rabu (23/9/2026), INDY, DEWA, MDKA Top Gainers LQ45
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














