kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

Harga Emas Masih Konsolidasi, Dolar AS Jadi Penghambat Utama


Rabu, 23 September 2026 / 17:48 WIB
Harga Emas Masih Konsolidasi, Dolar AS Jadi Penghambat Utama
ILUSTRASI. Total Kelolaan Emas (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi di tengah tarik-menarik sentimen global. Penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat menjadi penekan, sementara penurunan harga minyak dan yield Treasury Amerika Serikat (AS) memberikan dukungan.

Berdasarkan Trading Economics, Rabu (23/9/2026) pukul 17.20 WIB, harga emas spot berada di US$ 4.316 per ons troi, turun 1,10% secara harian. Namun, harga masih naik 1,07% dalam sepekan dan turun 7,37% dalam sebulan.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, emas masih memiliki peluang rebound, meski belum sepenuhnya kembali dalam tren bullish. Penguatan dolar AS menjadi salah satu hambatan utama karena membuat emas relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

"Jadi saat ini terjadi tarik-menarik antara USD dan The Fed yang menekan emas dengan penurunan minyak, yield yang lebih rendah, serta permintaan safe haven yang menopang emas," kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.300, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

Brahmantya mengatakan, penurunan harga minyak dapat mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi energi. Kondisi tersebut berpotensi meredakan tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Di sisi lain, yield Treasury AS yang lebih rendah juga mengurangi opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

Kendati demikian, Geopolitik masih menjadi sentimen yang perlu dicermati. Konflik Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven, tetapi eskalasi yang kembali mendorong harga minyak justru berpotensi meningkatkan inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.

"Emas membutuhkan setidaknya salah satu dari tiga katalis untuk kembali menguat lebih signifikan, yakni inflasi AS mulai turun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang, atau dolar dan Treasury yield mulai melemah secara konsisten," ujarnya.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Investor Cermati Prospek Suku Bunga Global

Selain Timur Tengah, perkembangan hubungan AS-China juga dapat memengaruhi risk sentiment global. Ketegangan yang meningkat berpotensi mendorong permintaan safe haven, sedangkan perkembangan diplomatik yang positif dapat mengurangi kebutuhan terhadap aset safe haven dalam jangka pendek.

Untuk investor jangka menengah-panjang, strategi buy on weakness dan dollar cost averaging (DCA) masih dapat dipertimbangkan dengan memanfaatkan koreksi harga. Area US$ 4.200-US$ 3.900 menjadi zona support yang perlu diperhatikan.

Hingga akhir 2026, Brahmantya masih mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran US$ 4.800-US$ 5.000 per ons troi.

Proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan harga bertahan di area support US$ 4.200-US$ 3.900 serta berlanjutnya penurunan minyak, meredanya inflasi AS, dan melemahnya dolar AS serta yield Treasury.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Pasar Antisipasi The Fed Kembali Kerek Suku Bunga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×