Penulis: Muhammad Alief Andri, Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Namun, kekhawatiran investor semakin besar karena persepsi terhadap kebijakan pemerintah, termasuk ekspansi belanja negara, biaya program makan bergizi gratis (MBG), meningkatnya peran BPI Danantara dan BUMN, serta kekhawatiran terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan independensi institusi ekonomi.
Budi memperkirakan arus keluar dana asing belum sepenuhnya berakhir hingga akhir tahun. Namun, dana asing masih berpeluang kembali masuk jika valuasi dan sentimen pasar membaik.
Jika reformasi pasar berjalan dan MSCI memberikan sinyal positif pada evaluasi November 2026, IHSG berpeluang naik ke 7.000-7.200. Sebaliknya, jika risiko Indonesia turun kelas menjadi frontier market kembali membesar, IHSG berpotensi jatuh di bawah level 6.000.
Baca Juga: Menilik Potensi Aliran Dana Asing Masih Lanjut Keluar dari Pasar Saham Indonesia
Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menilai program dan kebijakan pemerintah turut meningkatkan persepsi risiko investor global.
"Yang dipersoalkan investor berapa besar biayanya, bagaimana implementasinya, siapa yang mengawasi, dan seberapa predictable kebijakan pemerintah tersebut," ujarnya.
Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai persoalan yang disorot MSCI bukan semata ukuran kapitalisasi pasar, tetapi juga kualitas investability saham.
Keluarnya GOTO dan turunnya CPIN dari indeks MSCI Global Standard, menurut Hendra, menunjukkan bahwa kapitalisasi besar tidak otomatis membuat sebuah saham memiliki tingkat investability tinggi.
"Investor global tidak hanya butuh pasar yang besar, tapi pasar yang likuid, transparan dan investable," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
