kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Menilik Potensi Aliran Dana Asing Masih Lanjut Keluar dari Pasar Saham Indonesia


Kamis, 23 April 2026 / 20:38 WIB
Menilik Potensi Aliran Dana Asing Masih Lanjut Keluar dari Pasar Saham Indonesia
ILUSTRASI. Aliran dana asing diproyeksikan masih terus keluar dari pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aliran dana asing diproyeksikan masih terus keluar dari pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), aliran dana asing keluar sebesar Rp 1,36 triliun di pasar reguler. Sementara, outflow tercatat Rp 978,65 miliar di seluruh pasar hari ini.

Sejak awal tahun 2026, dana asing keluar Rp 35,11 triliun sejak awal tahun alias year to date (ytd) di pasar reguler dan Rp 39,82 triliun ytd di seluruh pasar.

Sejak awal tahun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dilepas paling banyak oleh asing di pasar reguler, yaitu sebesar Rp 67,3 triliun. Lalu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dilepas asing Rp 32,2 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 35 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 36,8 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 10,3 triliun.

Baca Juga: Pasar Bergejolak, IDX Value30 Tawarkan Alternatif Bagi Investor

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai, aliran dana asing keluar dari pasar saham Indonesia bukan sekadar akibat musim dividen dari sejumlah emiten tersebut.

Penyebabnya merupakan kombinasi dari faktor struktural dan sentimen kondisi pasar saat ini. Seperti, ketidakpastian terkait free float dan daftar saham high concentration list (HSC), investor global yang lebih tertarik berinvestasi di dolar Amerika Serikat (AS) dan instrumen berimbal hasil tinggi lain, serta risiko kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik.

“Inti masalahnya adalah Indonesia tampak “kalah menarik” secara relatif. Ini bukan karena fundamentalnya jelek, tapi karena investability dan liquidity story yang dipertanyakan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4).

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, tekanan outflow asing saat ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor.

“Sebut saja, kekhawatiran terkait status pasar Indonesia di indeks global seperti MSCI, ketidakpastian soal waktu dan bentuk final rebalancing, serta dinamika global seperti arah suku bunga dan risk appetite terhadap emerging market secara umum,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).

Alhasil, masih ada potensi outflow dari passive funds setelah deadline reformasi pasar saham Indonesia yang ditentukan oleh MSCI pada Mei 2026, meskipun nanti Bursa Indonesia tak jadi turun dari emerging markets ke frontier market.

Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Terus Meningkat, Penguatan Lintas Ekosistem Kian Mendesak

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penyebab outflow asing berasal dari tekanan suku bunga The Fed yang higher for longer, pelemahan rupiah, profit taking pasca pembagian dividen, dan rebalancing indeks MSCI. 

“Dana asing berpotensi berlanjut setelah Mei nanti juga data inflasi AS tetap tinggi. Intensitas outflow baru akan reda setelah rebalancing MSCI dan stabilnya rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4).

Ke depan, bulan Mei 2026 bisa menjadi titik balik jangka pendek dari arus keluar dana asing jika MSCI review dan rebalancing indeks utama BEI direspons bagus. Namun, Liza mengingatkan bahwa dana asing tak serta merta berhenti keluar begitu saja pada Mei nanti.

Outflow asing melambat, tetapi bukan berbalik inflow. Kecuali, ada katalis jelas seperti stabilisasi rupiah dan kepastian penilaian MSCI,” ungkapnya.

Di situasi saat ini, investor pun disarankan untuk memperhatikan arah pergerakan rupiah, aliran dana asing harian di pasar saham, dan imbal hasil US Treasury. Jika imbal hasil US Treasury masih naik, artinya asing belum balik ke Tanah Air.

Baca Juga: Simak Proyeksi Pergerakan IHSG untuk Perdagangan Jumat (24/4)

“Perbanyak strategi wait and see dan very speculative buy. Strategi buy on weakness bertahap hanya cocok untuk investasi jangka panjang. Pastikan punya dana cukup jika investasi tersangkut,” tuturnya.

Rully bilang, saham yang berpotensi terus dilepas asing umumnya memiliki beberapa karakter. Seperti, memiliki bobot besar di indeks global, sensitivitas tinggi terhadap aliran dana pasif, serta struktur kepemilikan yang terdampak isu free float atau HSC.

Di tengah kondisi ini, strategi yang paling rasional bagi investor adalah tidak reaktif mengejar aliran dana asing hari per hari, serta kembali menilai fundamental dan valuasi masing?masing emiten.

“Investor juga bisa memanfaatkan tekanan jual berbasis flow untuk secara selektif mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat yang terkoreksi lebih dalam dari penurunan kinerja riilnya,” katanya.

Sektor komoditas, consumer, dan telekomunikasi dinilai masih menarik dilirik pada kondisi saat ini. 

Rully pun merekomendasikan beli untuk EXCL, JPFA, BRMS, dan DEWA dengan target harga masing-masing Rp 4.300 per saham, Rp 3.750 per saham, Rp 1.100 per saham, dan Rp 800 per saham.

Wafi melihat, emiten yang akan lebih banyak dijual asing adalah saham big caps perbankan seperti BBRI dan BMRI, serta sektor telco seperti TLKM. Selain itu, saham terdampak review MSCI juga akan dilego asing ke depan.

Sementara, saham yang akan banyak dibeli saat kembali inflow juga berasal dari emiten sektor perbankan big caps yang valuasinya diskon dan sektor konsumer defensif seperti ICBP dan AMRT.

“Alasannya, stabilitas fundamental di tengah ketidakpastian makro,” tuturnya.

Strategi yang bisa dipasang investor adalah dengan menaikkan porsi kas dan menerapkan buy on weakness secara bertahap pada saham fundamental dengan kapitalisasi besar. 

“Fokus amati fluktuasi nilai tukar rupiah, arah kebijakan The Fed, dan laporan keuangan emiten periode kuartal I 2026,” katanya.

Wafi pun merekomendasikan beli untuk BBRI, BBCA, dan ICBP dengan target harga masing-masing Rp 5.200 per saham, Rp 10.200 per saham, dan Rp 11.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×