Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) mencatat pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan pada paruh kedua 2026. Hingga Agustus 2026, volume hauling dan loading TEBE mencapai level tertinggi sepanjang tahun, sementara ekspansi ke bisnis perdagangan batubara mulai menghasilkan pendapatan baru.
Dalam paparan Public Expose Insidentil yang akan dilaksanakan pada 1 Oktober 2026, perusahaan yang dimiliki oleh Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam memaparkan volume hauling pada Agustus 2026 mencapai 585.000 ton, sedangkan volume loading sebesar 572.000 ton. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi bulanan sepanjang 2026.
Dengan tambahan kinerja Juli–Agustus, total volume hauling TEBE hingga Agustus 2026 mencapai 3,10 juta ton, sedangkan volume loading mencapai 2,98 juta ton.
Baca Juga: Short Selling Lima Saham BEI Dimulai, Cermati Catatan Analis
Kenaikan aktivitas operasional tersebut turut mendorong pendapatan TEBE. Berdasarkan materi Publik Ekspose yang dirilis pada Selasa (29/9/2026), hingga Agustus 2026, pendapatan usaha TEBE mencapai Rp 256,06 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 79,2 miliar berasal dari periode Juli–Agustus saja.
Artinya, rata-rata pendapatan bulanan TEBE pada Juli–Agustus meningkat menjadi sekitar Rp 39,6 miliar, dibandingkan rata-rata sekitar Rp 29,5 miliar per bulan pada semester pertama 2026.
Percepatan kinerja juga terlihat dari sisi profitabilitas. Laba bersih TEBE hingga Agustus 2026 mencapai Rp 47,23 miliar, dengan marjin laba kotor 21,6%, marjin laba usaha 16,3% dan marjin laba bersih 18,4%.
Laba bersih yang dibukukan pada periode Juli–Agustus mencapai sekitar Rp 27,2 miliar. Nilai tersebut bahkan melampaui laba bersih yang dikantongi perseroan sepanjang semester I-2026 sebesar Rp 20,08 miliar.
Sebelumnya, pada semester I-2026, TEBE membukukan pendapatan usaha Rp 176,89 miliar, tumbuh 3,5% secara tahunan dari Rp 170,93 miliar. Namun, laba bersih turun 27,6% YoY menjadi Rp 20,08 miliar dari Rp 27,74 miliar.
Tekanan laba pada semester pertama terutama berasal dari kenaikan harga bahan bakar dan meningkatnya beban pokok pendapatan. Beban pokok pendapatan naik 26,6% YoY menjadi Rp 150,11 miliar, sehingga laba kotor turun 48,8% menjadi Rp 26,78 miliar.
Meski demikian, beban usaha berhasil ditekan 55,1% YoY menjadi Rp 10,83 miliar. Dari sisi operasional, volume hauling pada semester I-2026 mencapai 2,08 juta ton, sedangkan loading mencapai 2,03 juta ton.
Perbaikan kinerja kemudian berlanjut memasuki Juli dan Agustus. Salah satu faktor yang mendukung kepastian tarif logistik adalah pergerakan Local Coal Indicator (LCI) yang berada di kisaran US$ 121,29–US$ 136,77 per ton.
Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Terkoreksi, Selasa (29/9)
Dari sisi neraca, posisi keuangan TEBE juga tetap kuat. Per 31 Agustus 2026, kas dan setara kas mencapai Rp 437,53 miliar, dengan total aset Rp 1,13 triliun dan ekuitas Rp 1,07 triliun.
Sebelumnya, per 30 Juni 2026, total aset TEBE tercatat Rp 1,09 triliun dan ekuitas Rp 1,04 triliun. Penurunan dibandingkan posisi akhir 2025 terutama disebabkan pembayaran dividen tunai tahunan sesuai keputusan RUPS.
TEBE juga memiliki posisi likuiditas yang kuat dengan kas dan setara kas Rp 433,41 miliar, current ratio 12,83 kali serta debt to equity ratio (DER) 4,9%. TEBE tercatat tidak memiliki pinjaman berbunga.
Di tengah peningkatan kinerja operasional tersebut, TEBE juga mulai memperluas sumber pendapatan melalui diversifikasi usaha.
Ekspansi dilakukan melalui struktur anak usaha, yakni PT Dana Brata Luhur, PT Talenta Bumi, hingga PT TBE/PT SKAT. Salah satu bisnis baru yang mulai dijalankan adalah perdagangan batubara (coal trading).
"TEBE telah merampungkan shipment perdana batubara sebesar 7.405,41 metrik ton (MT) pada kuartal III-2026,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
Selain perdagangan batubara, TEBE mulai mengembangkan komoditas non-batubara. Pada tahap awal, pengembangan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan operasional internal grup. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok sebelum nantinya dikembangkan ke pasar eksternal.
Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya TEBE untuk membuka new revenue stream, sehingga bisnis perseroan tidak hanya bergantung pada jasa logistik batubara.
Dari sisi bisnis utama, segmen Loading Batubara & Kepelabuhanan masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar pada semester I-2026 dengan kontribusi Rp 82,63 miliar atau 46,7% dari total pendapatan.
Selanjutnya, segmen Jasa Terpadu (Hauling & Loading) menyumbang Rp 36,98 miliar atau 20,9%, Fasilitas Jalan Hauling Batubara Rp 36,15 miliar atau 20,4%, Jasa Angkutan Rp 15,27 miliar atau 8,7%, dan Sewa Alat Berat Rp 5,86 miliar atau 3,3%.
Baca Juga: Pefindo Naikkan Rating Waskita Karya (WSKT) Jadi idB dari idSD dengan Outlook Negatif
Ekspansi juga ditopang perkembangan entitas anak PT Pelabuhan Talenta Bumi yang telah beroperasi sebagai Badan Usaha Kepelabuhanan (BUP) pada 2026.
Di pasar modal, saham TEBE juga menguat signifikan sepanjang paruh kedua tahun ini. Setelah berada di level Rp 950 pada Juni 2026, harga saham TEBE meningkat menjadi Rp 1.095 pada Juli, Rp 1.675 pada Agustus, dan mencapai Rp 2.080 pada September 2026. Pada Selasa (29/9/2026), harga saham TEBE telah naik 7,34% di level Rp 2.340 per saham. Saham emiten milik Haji Isam ini naik 20% dalam lima hari dan 39,7% dalam sebulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














