Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka transaksi short selling pada lima saham, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai kehadiran short selling dapat memperkaya mekanisme price discovery karena investor bisa mengambil posisi atas ekspektasi kenaikan maupun penurunan harga.
"Posisi long dan short membuat pelaku pasar bisa mengekspresikan pandangan yang berbeda," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).
Namun, short selling tidak otomatis membuat harga lebih stabil. Saat sentimen berubah cepat, transaksi short justru berpotensi meningkatkan volatilitas.
Baca Juga: Apa Itu Short Selling yang Dibuka BEI? Ini Cara Kerja hingga Jadwal Rilis Daftar Efek
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta sependapat. Menurut dia, mekanisme ini membuat pembentukan harga lebih dinamis dan efisien karena tekanan jual dari investor yang menilai harga saham terlalu tinggi ikut tercermin dalam harga.
Meski demikian, volatilitas lima saham tersebut berpotensi meningkat pada tahap awal akibat tarik-menarik posisi long dan short. Nafan menilai pemilihan saham berlikuiditas tinggi oleh BEI penting untuk mengurangi risiko manipulasi dan cornering.
Dari sisi likuiditas, Elandry memperkirakan short selling dapat meningkatkan volume dan frekuensi transaksi, tetapi dampaknya belum akan besar dalam jangka pendek karena akses masih terbatas.
"Kontribusinya terhadap likuiditas dan volume pasar sangat bergantung pada tingkat partisipasi investor," ujar Elandry.
Nafan menambahkan, tambahan aktivitas tidak hanya berasal dari pembukaan posisi short, tetapi juga transaksi covering atau pembelian kembali saham untuk menutup posisi.
Baca Juga: Ada Saham LQ45 Dalam Daftar Efek Short Selling
BEI sebelumnya memperkirakan short selling berpotensi meningkatkan likuiditas pasar hingga sekitar 17%. Namun, realisasinya bergantung pada jumlah saham dan Anggota Bursa (AB) yang menyediakan fasilitas tersebut.
Saat ini baru dua AB, yakni Ajaib Sekuritas dan Semesta Indovest Sekuritas, yang menyediakan layanan tersebut.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai kontribusi likuiditas pada tahap awal belum signifikan karena jumlah peserta dan saham masih terbatas.














