kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Menilik Prospek Emiten BUMN Karya Jelang Merger dan Rekomendasi Analis


Rabu, 14 Januari 2026 / 17:58 WIB
Menilik Prospek Emiten BUMN Karya Jelang Merger dan Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Aktivitas proyek pembangunan konstruksi gedung (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN karya diperkirakan akan membaik di tahun 2026, meskipun masih tertahan oleh rencana merger dan restrukturisasi.

Sebagai gambaran, sejumlah emiten BUMN Karya mencatatkan penurunan nilai kontrak baru sepanjang tahun lalu.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan nilai kontrak baru Rp 18,1 triliun sepanjang tahun 2025. Nilai kontrak baru ADHI sepanjang 2025 ini turun dari raihan tahun 2024 yang sebesar Rp 20 triliun.

ADHI pun menargetkan nilai kontrak baru sebesar Rp 20 triliun - Rp 23 triliun di tahun 2026.

Baca Juga: Prospek Emiten BUMN Karya Pasca Perubahan Status Kementerian BUMN

“Mayoritas kontribusi diharapkan berasal dari segmen Engineering & Construction sebagai core competency perseroan,” kata Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta, kepada Kontan.

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga senasib. Nilai kontrak baru WIKA sebesar Rp 17,43 triliun sepanjang tahun 2025, turun dari Rp 20,66 triliun per akhir Desember 2024.

“WIKA menargetkan perolehan kontrak baru tumbuh sekitar 10% - 15% pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025,” kata Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin alias Emin kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Pada tahun 2026, kinerja emiten BUMN karya dinilai punya momentum perbaikan. Dalam dokumen Economic Outlook Danantara yang diterima KONTAN, merger BUMN karya sebagai bagian dari restrukturisasi dinilai akan menjadi katalis bagi kinerja mereka di tahun ini.

Baca Juga: Emiten BUMN Karya Masih Menderita, Begini Prospek Kinerjanya

“Setelah liabilitas dan pemilihan proyek membaik, emiten konstruksi pelat merah akan bisa masuk kembali ke pasar modal dengan rencana kerja yang lebih kredibel, baik itu dari sisi ekuitas hingga daur ulang aset, daripada sekadar mengandalkan dukungan ad-hoc,” sebut dokumen tersebut.

Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menilai, merger BUMN karya berpotensi memperbaiki struktur biaya dan efisiensi jangka menengah. Namun, dampaknya belum signifikan dalam jangka pendek karena proses restrukturisasi utang dan penyehatan neraca masih berjalan. 

Merger juga membuat adanya risiko dilusi aset. Namun, tujuan utama merger adalah memperkuat skala bisnis dan arus kas, bukan sekadar konsolidasi laporan keuangan. 

 

“Peran Danantara di sini krusial sebagai pengendali arah restrukturisasi, penilaian aset, hingga keputusan akhir bentuk merger. Ini agar merger tidak sekadar kosmetik, melainkan benar-benar memperbaiki fundamental,” katanya kepada Kontan, Selasa.

Menurut David, sentimen positif untuk emiten BUMN karya di tahun 2026 datang dari pipeline kontrak baru, proyek infrastruktur strategis, serta potensi dukungan pemerintah pascarestrukturisasi. 

Namun, sentimen negatif masih kuat dari tingginya utang, tekanan likuiditas, dan margin proyek yang tipis. Dibanding tahun 2025, prospek di tahun 2026 relatif lebih baik secara arah, tetapi perbaikan kinerja belum agresif. 

Baca Juga: Begini Prospek Emiten BUMN Karya yang Tengah Gencar Divestasi Aset

“Kontrak baru bisa menjadi katalis sentimen, namun belum otomatis mendorong lonjakan laba selama beban keuangan masih tinggi,” ujarnya.

Sukarno Alatas, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia mengatakan, merger dan restrukturisasi berpotensi memperbaiki fundamental, meskipun ada risiko dilusi secara akuntansi.




TERBARU

[X]
×