Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (24/7/2026) waktu setempat. Indeks-indeks utama Wall Street menyentuh level terendah dalam beberapa pekan terakhir setelah laporan keuangan perdana emiten teknologi berkapitalisasi besar memicu kembali kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di saat yang sama, harga minyak dunia sempat menembus level US$ 100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang turut memperburuk sentimen pasar.
Laporan keuangan kuartal II-2026 dari Alphabet, induk Google, serta Tesla, yang menjadi dua anggota pertama kelompok saham teknologi raksasa "Magnificent Seven" yang merilis kinerja musim ini, belum mampu memenuhi ekspektasi investor.
Saham Alphabet anjlok 6,4% setelah hasil kinerjanya gagal memberikan keyakinan kepada pasar, sementara perhatian investor justru tertuju pada rencana perusahaan meningkatkan belanja modal untuk pengembangan AI.
Baca Juga: 59 Emiten Berpotensi Didelisting dari BEI, Ini yang Perlu Diperhatikan Investor
Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould, mengatakan Alphabet menggelontorkan investasi dalam jumlah sangat besar demi mempertahankan keunggulan dalam persaingan teknologi AI.
"Alphabet menghabiskan ratusan miliar dolar AS untuk tetap berada di depan dalam perlombaan pengembangan AI. Namun, masih terdapat tingkat skeptisisme yang cukup tinggi mengenai kemampuan investasi tersebut menghasilkan imbal hasil yang sepadan," ujar Mould.
Penurunan saham Alphabet menyeret sektor layanan komunikasi dalam indeks S&P 500 turun 4,4%, menjadi sektor dengan pelemahan terbesar pada perdagangan hari itu.
Sementara itu, saham Tesla merosot 12,2% setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal II untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.
Investor Soroti Efektivitas Investasi AI
Pasar kini menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar lainnya yang dijadwalkan rilis pekan depan. Fokus investor akan tertuju pada rencana belanja modal masing-masing perusahaan di bidang AI.
Pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah investasi bernilai ratusan miliar dolar AS yang digelontorkan perusahaan teknologi benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang cukup untuk membenarkan valuasi saham yang saat ini sudah berada di level tinggi.
Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1,22 Triliun, Intip Saham yang Banyak Dijual Kamis (23/7)
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik turut memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan.
Setelah selama beberapa bulan perhatian investor tertuju pada Selat Hormuz, kini fokus bergeser ke Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran dan menguasai wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb membuka front baru dalam konflik di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman.
Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga mencapai US$ 100 per barel, level tertinggi sejak akhir Mei.
Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga, melonjak ke level tertinggi dalam 17 bulan setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang sebesar sekitar 38% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan peluang sekitar 12% sepekan sebelumnya.
Sementara itu, data ekonomi terbaru menunjukkan jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran untuk pertama kali turun signifikan pada pekan lalu. Kondisi tersebut memberi ruang bagi pejabat Federal Reserve untuk tetap memprioritaskan upaya menekan inflasi.
Indeks Utama Wall Street Kompak Melemah
Hingga pukul 09.54 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 504,86 poin atau 0,97% ke level 51.713,72.
Indeks S&P 500 terkoreksi 70,92 poin atau 0,95% menjadi 7.428,04, sedangkan Nasdaq Composite melemah paling dalam, yakni 433,12 poin atau 1,69% ke level 25.257,79.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,30%, Simak Proyeksi Perdagangan Jumat (24/7)
Di sektor semikonduktor, pergerakan saham berlangsung bervariasi. Saham Texas Instruments turun 3,2% meskipun perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartalan melampaui ekspektasi analis.
Sebaliknya, saham Lockheed Martin melonjak 11,1% setelah perusahaan meningkatkan proyeksi penjualan dan laba tahun 2026.
Saham perusahaan perangkat lunak ServiceNow juga menguat 2% setelah kembali menaikkan proyeksi pendapatan langganan tahunan untuk kedua kalinya tahun ini.
Secara keseluruhan, saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham yang turun terhadap yang naik mencapai 2,72 banding 1, sedangkan di Nasdaq mencapai 2,2 banding 1.
Pada perdagangan tersebut, indeks S&P 500 mencatat 15 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan delapan saham di level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 30 saham di level tertinggi baru dan 68 saham di level terendah baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














