Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat. Mengutip Bloomberg Rabu (19/8/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,12% secara harian ke Rp 17.840 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,06% secara harian ke Rp 17.844 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Salah satu faktor utama yang akan menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Menurut Lukman, pelaku pasar akan mencermati risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan menjadi salah satu katalis pergerakan rupiah.
The Fed diharapkan memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serangkaian data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Apabila risalah FOMC mengindikasikan ruang pelonggaran kebijakan moneter AS, dolar AS berpotensi mengalami tekanan. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih positif.
“Untuk besok, rupiah masih berpotensi menguat, apabila dalam risalah pertemuan FOMC malam ini the Fed diharapkan memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serentetan data ekonomi AS yang lebih lemah akhir-akhir ini,” ucap Lukman kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Rupiah Masih Rentan Tembus Rp 18.000 Usai BI-Rate Ditahan
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menambahkan sentimen geopolitik juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah besok. Para investor disebut tengah menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal.
Presiden AS Donald Trump bilang bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.
“Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit melihat, pergerakan rupiah Kamis besok (20/8/2026) dipengaruhi oleh dampak keputusan BI hari ini serta pergerakan dolar dan risalah Fed Minutes.
Menurutnya, keputusan BI yang mempertahankan BI-Rate di 5,75% cukup penting karena pasar sebelumnya memperhatikan ruang BI untuk menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, dolar AS hari ini terlihat melemah, dengan indeks dolar (DXY) sekitar 99,43, sementara yield US 10 tahun turun ke sekitar 4,69%.
“Pasar menunggu FOMC Minutes untuk melihat arah kebijakan The Fed,” ujar Geraldo.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat Menjadi Rp 17.840 per Dolar AS
Lukman memproyeksikan rupiah pada perdagangan Kamis (20/8/2026) bergerak dalam kisaran Rp 17.750 – Rp 17.900 per dolar AS. Ibrahim memperkirakan rupiah besok bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.840 – Rp 17.900 per dolar AS.
Sementara Geraldo memproyeksikan rupiah besok bergerak dikisaran Rp 17.689 – Rp 17.856 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














