kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Dibayangi Isu Geopolitik & Kebijakan BI, Simak Proyeksi Rupiah Senin (5/10)


Minggu, 04 Oktober 2026 / 09:24 WIB
Dibayangi Isu Geopolitik & Kebijakan BI, Simak Proyeksi Rupiah Senin (5/10)
ILUSTRASI. Nilai Tukar Terlemah Sepanjang Sejarah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal bergerak fluktuatif, namun berisiko ditutup melemah pada perdagangan Senin (5/10/2026).

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,47% atau 84 poin ke level Rp 17.882 per dolar AS menurut data Bloomberg, sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat penguatan sekitar 0,22% dari Rp 17.937 per dolar AS pada 1 Oktober 2026 menjadi Rp 17.898 per dolar AS pada 2 Oktober 2026.

Menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah pada akhir pekan lalu terdorong oleh kombinasi sentimen melandainya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pasca-rilis data inflasi AS serta langkah Bank Indonesia (BI) memperluas underlying operasi moneter untuk menjaga fleksibilitas likuiditas pasar keuangan.

Baca Juga: Dibayangi Data AS dan Intervensi BI, Cek Proyeksi Rupiah Senin (5/10)

Menjelang perdagangan awal pekan, Ibrahim menilai pergerakan mata uang Garuda akan diwarnai oleh sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter global.

Dari ranah global, pasar mengantisipasi potensi eskalasi konflik AS-Iran pasca-pemilu paruh waktu AS yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.

Potensi peningkatan risiko inflasi global ini mendukung argumen kebijakan moneter ketat, di mana pejabat The Fed seperti Philip Jefferson dan Neel Kashkari tetap bersikap dari hawkish hingga sabar.

Di sisi lain, pelaku pasar mencermati laporan nonfarm payrolls AS bulan September yang diperkirakan melambat ke angka 90.000 pekerjaan.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan Bank Indonesia yang memperluas surat berharga, termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi, sebagai underlying dalam operasi moneter.

Langkah ini memberikan fleksibilitas tambahan bagi perbankan nasional dalam mengelola likuiditas sekaligus menyokong pembiayaan sektor riil.

"Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA)," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).

Ibrahim menambahkan, operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.

"BI melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya. Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder," jelas Ibrahim.

Mempertimbangkan dinamika ketegangan geopolitik global serta penyesuaian pasar uang domestik, Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah pada perdagangan Senin (5/10/2026) akan bergerak fluktuatif, namun cenderung ditutup melemah.

Menurut perkiraannya, mata uang rupiah untuk perdagangan awal pekan Senin (5/10/2026) diproyeksikan bakal bergerak dalam rentang Rp 17.880 hingga Rp 17.930 per dolar AS. 

Baca Juga: Prospek Industri Plastik 2026 di Tengah Tekanan Biaya dan Persaingan China

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×