Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal bergerak konsolidatif pada perdagangan Senin (5/10/2026).
Mengutip Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026) menguat 0,47% atau 84 poin ke level Rp 17.882 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat penguatan sekitar 0,22% dari Rp 17.937 per dolar AS pada 1 Oktober 2026 menjadi Rp 17.898 per dolar AS pada 2 Oktober 2026.
Baca Juga: Harga Emas Antam Stagnan pada Minggu (4/10), Rp 2.574.00 per Gram
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan bahwa penguatan rupiah pada akhir pekan lalu didorong oleh langkah otoritas moneter yang konsisten melakukan intervensi serta fase konsolidasi indeks dolar AS (DXY) di tengah sikap wait and see pelaku pasar yang menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Menjelang perdagangan awal pekan, Rahma menilai pergerakan mata uang Garuda akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi dinamika makroekonomi global serta sentimen domestik.
Dari ranah global, pasar fokus mencermati data non farm payrolls dan tingkat pengangguran AS yang memicu ekspektasi The Fed menahan suku bunga lebih tinggi lebih lama, sehingga menjaga kekuatan DXY serta memicu kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
"Eskalasi geopolitik global serta pasokan minyak mentah dunia seperti minyak Brent dan WTI terus dipantau ketat. Fluktuasi harga energi berdampak langsung pada proyeksi inflasi global dan defisit neraca perdagangan negara importir minyak," kata Rahma kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Sementara dari dalam negeri, penopang utama kestabilan rupiah berasal dari langkah Bank Indonesia melalui triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar offshore NDF, disokong oleh instrumen insentif likuiditas makroprudensial.
Rahma menambahkan bahwa dinamika politik dan kebijakan fiskal turut memengaruhi persepsi risiko pasar.
"Respons pasar terhadap isu-isu politik dalam negeri, termasuk dinamika kebijakan fiskal dan sentimen penataan kabinet, turut membentuk persepsi risiko (risk appetite) investor domestik maupun asing di awal bulan," jelas Rahma.
Selain itu, lonjakan permintaan valas oleh korporasi dan importir untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek di awal bulan juga menjadi salah satu variabel penekan rupiah.
Mempertimbangkan berbagai dinamika global dan domestik tersebut, Rahma memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan hari Senin (5/10/2026) berada di kisaran Rp 17.800 – Rp 17.960 per dolar AS.
Menurut perkiraannya, jika respons pasar terhadap intervensi lanjutan Bank Indonesia berjalan efektif, rupiah berpeluang menguji level support terdekat di kisaran Rp17.800 – Rp17.840.
Sebaliknya, jika penguatan indeks dolar AS berlanjut dan permintaan valas korporasi mendominasi, rupiah berisiko melemah menguji level resistance di kisaran Rp 17.920 – Rp 17.960 per dolar AS dengan tetap mewaspadai batas psikologis Rp 18.000.
Baca Juga: Prospek Industri Plastik 2026 di Tengah Tekanan Biaya dan Persaingan China
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














