kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

PMI Manufaktur Ekspansi, Simak Prospek Saham AUTO dan ASII


Minggu, 04 Oktober 2026 / 10:08 WIB
PMI Manufaktur Ekspansi, Simak Prospek Saham AUTO dan ASII
ILUSTRASI. Menara Astra (Dok/ASII )


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada September 2026. PMI tercatat di level 52,4, naik dari 49,8 pada Agustus 2026. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi prospek emiten manufaktur, meski analis menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan sektor tersebut telah memasuki tren pemulihan yang kuat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan PMI menunjukkan aktivitas industri kembali memasuki fase ekspansi setelah sebelumnya berada di zona kontraksi. Penguatan pesanan baru, produksi, dan ekspor juga mengindikasikan adanya perbaikan permintaan serta utilisasi kapasitas produksi.

"Apabila tren ini berlanjut hingga akhir 2026 dan 2027, maka sektor manufaktur berpotensi memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba emiten, terutama perusahaan yang memiliki eksposur kuat terhadap konsumsi domestik, ekspor, dan aktivitas industri," ujar Nafan kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).

Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Tawarkan Obligasi Rp4,12 Triliun, Kupon hingga 10%

Menurut Nafan, keberlanjutan pemulihan sektor manufaktur tetap perlu ditopang oleh sejumlah faktor. Di antaranya daya beli domestik yang membaik, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kondisi biaya produksi yang terkendali.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai kenaikan PMI September memang menunjukkan adanya perbaikan aktivitas manufaktur, terutama dari kenaikan pesanan baru, produksi, dan permintaan ekspor. Namun, ia belum melihat kondisi tersebut sebagai tanda pemulihan yang kuat karena perbaikan baru terjadi dalam satu bulan.

"Jadi yang perlu dicermati adalah apakah PMI dapat bertahan di zona ekspansi dalam beberapa bulan ke depan," kata Ekky.

Menurut Ekky, apabila kenaikan pesanan baru dan produksi berlanjut hingga akhir tahun, kondisi tersebut dapat membantu kinerja emiten manufaktur dari sisi volume produksi dan penjualan. Dampaknya berpotensi mulai terlihat pada kuartal IV 2026, sementara pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja 2027 akan terlihat apabila ekspansi manufaktur berlangsung secara konsisten.

Dari sisi subsektor, Nafan melihat consumer goods, makanan dan minuman, otomotif dan komponen, kimia dan petrokimia, hingga industri berbasis komoditas berorientasi ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari pemulihan aktivitas manufaktur.

Untuk pasar domestik, ia menyebut ICBP, MYOR, CPIN, dan AUTO sebagai sejumlah emiten yang dapat diuntungkan apabila konsumsi rumah tangga dan aktivitas industri terus membaik. Sementara untuk eksposur ekspor dan siklus industri global, TPIA, BRPT, INKP, dan TKIM juga menarik dicermati.

"Namun, setiap emiten memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap harga bahan baku, nilai tukar, harga komoditas, serta kondisi permintaan global, sehingga investor tetap perlu melihat kualitas fundamental masing-masing perusahaan," jelas Nafan.

Senada, Ekky menilai sektor otomotif dan komponennya cukup menarik karena memiliki eksposur terhadap permintaan domestik maupun ekspor. Selain itu, consumer manufacturing, packaging dan industrial goods juga berpotensi mendapat manfaat.

Ekky mencatat ekspor industri pengolahan masih tumbuh sekitar 6,6% sepanjang Januari-Agustus 2026. Menurutnya, apabila permintaan eksternal tetap terjaga, produsen yang memiliki eksposur ekspor berpotensi memperoleh tambahan pertumbuhan.

Dari sisi margin, peningkatan permintaan yang terjadi bersamaan dengan meredanya biaya input juga menjadi kombinasi positif bagi emiten manufaktur. Nafan mengatakan pertumbuhan pesanan baru dapat mendorong kenaikan volume penjualan dan utilisasi kapasitas, sehingga fixed cost per unit menjadi lebih rendah dan memberikan operating leverage.

Di sisi lain, moderasi harga bahan baku dapat membantu menjaga gross margin, terutama bagi perusahaan yang memiliki pricing power cukup kuat. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan laba berpotensi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Namun, dampaknya terhadap margin tetap bergantung pada tingkat persaingan, kemampuan perusahaan melakukan efisiensi, serta kemampuan meneruskan perubahan biaya kepada konsumen melalui penyesuaian harga.

Ekky juga melihat peningkatan demand dan biaya input yang lebih stabil sebagai kombinasi yang positif. Ketika volume produksi meningkat, perusahaan berpotensi memperoleh operating leverage karena fixed cost terbagi ke volume produksi yang lebih besar.

"Jika harga bahan baku juga lebih stabil, gross margin berpotensi ikut membaik. Namun tetap perlu diperhatikan risiko rupiah, harga energi dan kondisi geopolitik," ujar Ekky.

Sementara itu, kenaikan backlog manufaktur belum menjadi risiko utama bagi kinerja sektor tersebut. Ekky menilai backlog justru menunjukkan order yang masuk lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam jangka pendek. Pada September, backlog manufaktur bahkan meningkat dengan laju tercepat dalam sekitar lima tahun.

Meski demikian, backlog dapat menjadi risiko apabila terus meningkat sementara perusahaan tidak mampu menambah kapasitas produksi maupun memperbaiki rantai pasok. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman, peningkatan kebutuhan modal kerja dan biaya operasional.

"Jadi yang perlu dilihat adalah apakah backlog tersebut akhirnya bisa dikonversi menjadi penjualan dan cash flow," katanya.

Nafan juga menilai kenaikan backlog pada dasarnya merupakan indikator positif karena memberikan visibilitas permintaan dan pipeline pendapatan bagi perusahaan. Namun, pertumbuhan backlog perlu diimbangi kapasitas produksi dan kemampuan rantai pasok.

Menurutnya, bottleneck produksi dapat memicu peningkatan biaya lembur, keterlambatan pengiriman hingga potensi penalti kontrak. Karena itu, investor perlu mencermati apakah kenaikan backlog diikuti ekspansi kapasitas, peningkatan utilisasi yang sehat, serta kemampuan perusahaan mengonversi backlog menjadi penjualan dan laba tepat waktu.

Untuk pilihan saham, Ekky merekomendasikan AUTO untuk akumulasi atau buy on weakness. Menurutnya, AUTO memiliki eksposur terhadap original equipment manufacturer, aftermarket dan ekspor, sementara kinerja semester I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.

"Target harga kami di kisaran Rp3.800-Rp3.900 per saham," kata Ekky.

Selain AUTO, Ekky menilai ASII menarik untuk akumulasi bertahap. ASII memiliki eksposur terhadap otomotif, alat berat dan berbagai aktivitas ekonomi domestik sehingga berpotensi mendapatkan manfaat apabila aktivitas manufaktur dan konsumsi membaik.

Menurut Ekky, koreksi yang telah dialami saham ASII juga membuat valuasinya mulai lebih menarik. Ia melihat target harga ASII di kisaran Rp5.000-Rp5.200 per saham untuk jangka pendek hingga menengah, dengan peluang menuju Rp6.000 per saham apabila kenaikan berlanjut.

Baca Juga: Dibayangi Isu Geopolitik & Kebijakan BI, Simak Proyeksi Rupiah Senin (5/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×