Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerbitan surat utang korporasi mulai menunjukkan perbaikan pada September 2026. Namun, secara kumulatif hingga kuartal III 2026, aktivitas penerbitan masih mencatat penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat, penerbitan surat utang korporasi pada September 2026 mencapai sekitar Rp 19,47 triliun, meningkat cukup kuat dari Rp 7,87 triliun pada Agustus. Namun, nilainya masih lebih rendah dibandingkan dengan penerbitan di Juli 2026 yang mencapai Rp 24,96 triliun.
“Dibandingkan dengan September 2025 sebesar Rp 19,43 triliun, penerbitan September tahun ini relatif stabil,” ungkap Chief Economist PEFINDO Suhindarto kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: Harga Emas Masih Bearish, NFP Jadi Katalis Pergerakan di Pekan Depan
Secara kumulatif, penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp 139,65 triliun. Angka tersebut turun 12,75% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 160,07 triliun.
Dengan demikian, Suhindarto mengatakan, perbaikan penerbitan pada September belum menunjukkan pemulihan secara penuh. Aktivitas penerbitan memang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi secara tahunan masih relatif tertahan.
Kata Suhindarto, perbaikan pada September ini turut didorong oleh sejumlah penerbit dengan nilai emisi yang relatif besar. Beberapa di antaranya adalah Pegadaian, Indah Kiat Pulp & Paper, Astra Sedaya Finance, Permodalan Nasional Madani, dan Federal International Finance.
“Namun, secara lebih luas, penerbitan masih tertahan oleh biaya pendanaan yang tinggi,” tegas Suhindarto.
Ia menjelaskan, SBN dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif, sehingga korporasi perlu menawarkan tingkat bunga yang cukup menarik untuk memperoleh dana dari investor. Kondisi ini membuat perusahaan lebih selektif dalam menentukan waktu dan besaran penerbitan.
Baca Juga: PMI Manufaktur Ekspansi, Simak Prospek Saham AUTO dan ASII
Memasuki kuartal IV-2026, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan pasar obligasi korporasi masih cukup prospektif.
“Penerbitan berpeluang kembali meningkat, terutama karena kebutuhan refinancing yang cukup besar dan proyek yang sudah berjalan. Namun, emiten sekarang tidak lagi masuk pasar semata karena berharap suku bunga turun,” jelas Yusuf.
Asal tahu saja, suku bunga acuan BI saat ini masih berada di level 5,75% pun juga yield SBN 10 tahun masih tinggi di sekitar 7,159% pada Minggu (4/10), maka biaya dana masih relatif tinggi.
Karena itu, lanjut Yusuf, penerbitan lebih banyak didorong oleh kebutuhan jatuh tempo utang, terutama pada Oktober sampai Desember yang nilainya sekitar Rp 43 triliun, serta kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang sebelumnya tertunda.
Di awal tahun, PEFINDO sempat memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi di sepanjang 2026 akan sebesar Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun dengan titik tengah Rp 175,77 triliun. Yusuf melihat proyeksi tersebut masih relevan.
Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Tawarkan Obligasi Rp4,12 Triliun, Kupon hingga 10%
Namun, realisasinya lebih mungkin berada di sisi bawah hingga pertengahan rentang. Mengingat, penerbitan di semester I 2026 baru mencapai sekitar Rp 87,35 triliun dan sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Yusuf menjelaskan, untuk mendekati Rp 196 triliun akan lebih sulit karena asumsi awal proyeksi dibuat ketika pasar masih mengantisipasi pelonggaran moneter, sementara perkembangan terakhir justru menunjukkan suku bunga acuan dan yield SBN bertahan tinggi.
“Dalam kondisi seperti ini, emiten dengan peringkat menengah cenderung menahan penerbitan atau memilih tenor yang lebih pendek,” pungkas Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














