Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menghadapi dinamika sentimen yang cukup beragam pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (9/9/2026), rupiah tampil perkasa dan ditutup menguat 0,69% atau naik 121,00 poin ke level Rp17.511 per dolar AS. Ini adalah level terbaik rupiah dalam 4 bulan terakhir.
Sementara itu, berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah menguat 0,37% ke level Rp17.552 per dolar AS.
Baca Juga: SIDO Bidik Pemulihan Kinerja pada Semester II Usai Penjualan Turun 19,8%
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan bahwa penguatan rupiah pada hari ini ditopang oleh penurunan indeks dolar AS (DXY) ke level 98,15 serta membaiknya indikator domestik, seperti kenaikan cadangan devisa dan aliran dana asing.
Untuk perdagangan Kamis (10/9/2026), Brahmantya memproyeksikan, pergerakan mata uang Garuda bakal diwarnai sentimen yang saling bertolak belakang.
Ia menilai rupiah akan menghadapi tarik-menarik antara pelemahan dolar AS dan kenaikan harga minyak dan yield US Treasury.
Dari kawasan global, posisi DXY yang berada mendekati level terendah dua pekan masih memberi ruang penguatan bagi rupiah.
Namun, lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu inflasi AS serta menjaga sikap hawkish The Fed.
"Pasar besok juga akan menunggu PPI AS dan data jobless claims," ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Kenaikan data inflasi produsen AS berisiko mengangkat kembali ekspektasi suku bunga The Fed, indeks dolar AS, serta yield US Treasury.
Baca Juga: Indo Tambangraya (ITMG) Buka Peluang Investasi di Nikel dan Mineral Strategis
Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar cenderung lebih positif seiring peningkatan cadangan devisa Indonesia menjadi sekitar US$ 146,5 miliar.
Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan rilis data penjualan ritel domestik turut menjadi bantalan penahan tekanan eksternal.
Melihat kondisi tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat terbatas pada perdagangan Kamis (10/9).
"Saya memperkirakan USD/IDR bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.800 per dolar AS," kata Brahmantya.
Sementara itu, area Rp17.500–Rp17.600 menjadi level support USD/IDR, sedangkan Rp17.700–Rp17.800 bertindak sebagai area resistance.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














