kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kapan saat yang tepat menjual saham? Ikuti 4 petunjuk ini


Sabtu, 15 Februari 2020 / 05:05 WIB
Kapan saat yang tepat menjual saham? Ikuti 4 petunjuk ini
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Bicara investasi saham, biasanya kita mulai dengan hal-hal yang terkait keputusan membeli saham. Saham apa yang harus dibeli? Pada harga berapa? Kapan membelinya?

Namun jangan lupa, saat kita memutuskan untuk membeli saham, kita juga harus memikirkan hal yang penting lainnya: kapan kita menjual saham?

Baca Juga: Rugikan Jiwasraya dan Asabri, apakah Benny Tjokro dan Heru Hidayat bisa bayar?

Membuat keputusan jual saham ternyata tidak lebih mudah dari keputusan membeli saham. Misalnya, jika saham yang kita beli naik harganya, apa yang harus kita lakukan? Sampai harga berapa kita akan memegang saham tersebut?

Ada tendensi, di mana investor terlalu cepat menjual sahamnya yang sudah memberikan keuntungan (selling winners too early). Hal ini disebabkan karena, menurut pemenang Nobel Ekonomi Daniel Kahneman, investor cenderung tidak menyukai kerugian (aversion to loss). Jika saham sudah hijau (untung), segera diuangkan sebelum dia jadi merah (rugi).

Warren Buffett membeli saham pertamanya (Citi Services) pada harga US$ 38,25 dan segera menjualnya saat harga menyentuh US$ 40. Beberapa tahun kemudian, harga saham tersebut meroket ke US$ 200.

Pengalaman ini memberi pelajaran kepada Warren Buffett tentang pentingnya berinvestasi secara jangka panjang.

Jika saham yang kita beli harganya tidak berubah banyak, sampai kapan kita harus bersabar? Saham PT Astra international Tbk (ASII), misalnya. Harga saham blue chip ini boleh dibilang tidak banyak berubah selama periode 2012 2016.

Baca Juga: Terkait Jiwasraya, Hanson tegaskan Kejagung tidak bisa blokir tanah dua perumahan

Di akhir 2011, harga saham ASII ada di level Rp 8.000. Akhir tahun 2016, harganya juga masih di posisi Rp 8.000. Investor mengalami kerugian waktu karena harga sahamnya jalan di tempat, tapi inflasi lari kencang.

Atau, jika saham yang dibeli harganya turun, apa yang harus dilakukan? Jual rugi (cut loss)? Atau menunggu hingga saham tersebut naik kembali? Jika cut loss, akan dilakukan setelah harga turun berapa dalam?

Cut loss terlalu cepat membuat kita rugi karena ternyata tak lama kemudian harga saham sudah pulih dan melonjak tinggi. Celakanya, setelah cut loss biasanya investor tidak mau membeli kembali saham tersebut pada harga yang lebih tinggi dari harga jualnya.

Ia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena menjual rugi lalu minggu depan harus membeli saham yang sama pada harga 10% lebih mahal.




TERBARU

Close [X]
×