kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45670,77   -28,01   -4.01%
  • EMAS926.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kapan saat yang tepat menjual saham? Ikuti 4 petunjuk ini


Sabtu, 15 Februari 2020 / 05:05 WIB
Kapan saat yang tepat menjual saham? Ikuti 4 petunjuk ini
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Noverius Laoli

Ketiga, asumsi saat membeli saham sudah tidak berlaku. Saham BUMI dihargai sekitar Rp 700 pada Oktober 2007. Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia dan batubara, saham ini sempat menyentuh Rp 8.750 pada 10 Juni 2008.

Harga minyak saat itu mencapai rekor US$ 126 sebelum turun ke US$ 31 tujuh bulan kemudian. Bagi investor yang membeli saham BUMI di harga puncak ini pasti punya asumsi bahwa saham ini underpriced karena memprediksi harga minyak masih naik terus.

Saat krisis 2008, harga saham BUMI turun mengikuti jejak harga minyak dunia dan batubara. Berbeda dengan ASII yang terdiskon 60% dalam 3 minggu, saham BUMI turun 94% dari Rp 8.750 ke Rp 500 dalam waktu 7 bulan.

Baca Juga: Wow, utang Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat ke Asabri capai Rp 10,6 triliun

Artinya banyak waktu bagi investor untuk berpikir apakah asumsi waktu beli masih berlaku atau tidak, dan melakukan cut loss.

Misalnya, apakah harga minyak akan bertahan di atas USD 100 per barrel? Jika tidak, kemungkinan harga saham BUMI sudah overpriced dan cut loss bisa menghindarkan dia dari keanggotaan panjang The Nyangkutters.

Terakhir, harga saham sudah overpriced alias kemahalan. Ketika harga saham sudah naik terlalu tinggi, ditunjukkan dengan PER (price earnings ratio) di atas 20 kali, sebaiknya kita realisasi keuntungan dan memindahkan dana ke saham lain yang lebih prospektif.

Penulis: Lukas Setia Atmaja Dosen di Prasetya Mulia Business




TERBARU

Close [X]
×