Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS masih terjadi di akhir pekan. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/8), rupiah spot melemah 0,49% ke Rp 14.185 per dolar AS. Dalam sepekan, nilai tukar rupiah melemah 1,26%.
Sementara kurs referensi Bank Indonesia dalam Jakarta interbank spot dollar rate (Jisdor) hari ini melemah 0,74% ke Rp 14.203 per dolar AS. Dalam sepekan, Jisdor melemah 1,44%. Pelemahan ini diprediksi masih akan berlanjut di pekan depan.
Baca Juga: LPEM UI proyeksikan PDB kuartal II 2019 tumbuh 5,1%
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, rupiah selama sepekan ini tertekan oleh faktor eksternal terkait keputusan Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Ia berpendapat pemangkasan suku bunga ini memberi sinyal bahwa perekonomian AS masih optimistis bagus.
Selain itu, Josua juga berpendapat rupiah semakin tertekan dengan perkembangan perang dagang antara AS dan Tiongkok. Setelah tidak ada kesepakatan antara kedua negara di pertemuan Shanghai, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan bahwa AS akan mengenakan tarif baru untuk produk dari China sebesar 10%.
Baca Juga: Ancaman tarif Trump membuat dolar keok, investor memburu aset safe haven
"Efek dari implementasi tarif baru terhadap produk Tiongkok akan berdampak pada perlambatan ekonomi Tiongkok dan pada akhirnya mempengaruhi juga mitra dagang Tiongkok, terutama negara-negara di Asia," jelas Josua.
Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan juga sepakat bahwa rupiah selama ini tertekan utamanya dari faktor eksternal. Ia mengatakan bahwa pernyataan Presiden Trump menyebabkan kinerja aset berIsiko termasuk rupiah semakin terbebani. "Mungkin, ini pekan yang luar biasa untuk rupiah tertekan akibat dolar AS," tambah Yudi.
Yudi juga ikut berkomentar mengenai faktor pemangkasan suku bunga yang turut melemahkan rupiah. Dia menilai, pernyataan Jerome Powell yang mengatakan The Fed tidak akan agresif memangkas suku bunganya hingga akhir tahun turut membuat rupiah semakin tertekan.
"Pernyataan Powell berbeda dengan ekspetasi pasar yang memperkirakan The Fed masih agresif memangkas suku bunganya hingga akhir tahun," ujar Yudi.
Baca Juga: Rupiah ditutup melemah 0,64% di level Rp 14.205 per dolar AS
Yudi dan Josua sepakat minimnya sentimen dari domestik menyebabkan rupiah tidak bisa menguat untuk pekan ini. Josua berpendapat sentimen domestik semacam rilis inflasi terbaru hanya ditanggapi netral oleh pasar.
Hingga pekan depan, rupiah dinilai masih akan tertekan oleh keperkasaan dolar AS. Josua memperkirakan rupiah akan bergerak melemah di level Rp 14.125-Rp 14.250. Ini karena data AS yang akan dirilis malam nanti memiliki ekspetasi yang bagus untuk dolar masih menguat.
Baca Juga: Simak pandangan Kemenkeu terkait kebijakan The Fed ke depan
Sedangkan data domestik pekan depan yang akan rilis seperti GDP kuartal II dan current account diprediksi agak melambat sehingga mempengaruhi rupiah untuk masih melemah.
Pekan depan, Yudi juga memperkirakan rupiah melemah di kisaran Rp 14.100 - Rp 14.300. Faktornya masih sama dengan Josua terkait data AS yang akan rilis malam ini dengan ekspektasi cukup bagus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













