Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi membuka proses seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya dalam mengoptimalisasi sumber daya spektrum frekuensi guna mendorong perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas layanan mobile broadband di seluruh wilayah Indonesia.
Daniel Widjadja, Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan, proses seleksi ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital 2025–2029.
Lelang ini mencakup dua pita frekuensi yang saling melengkapi. Pita frekuensi 700MHz digital (703–738MHz uplink / 758–793MHz downlink; 2x35MHz) menawarkan cakupan yang luas dan penetrasi bangunan yang kuat, sehingga sangat cocok untuk memperluas 4G ke daerah-daerah yang kurang terlayani. Adapun, pita frekuensi 2,6GHz (2500–2690MHz; 190MHz) menyediakan kapasitas pita tengah yang ideal untuk 5G dan lalu lintas perkotaan yang padat.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Rawan Terkoreksi pada Senin (4/5/2026), Ini Penyebabnya
Pemenang harus berkomitmen untuk peluncuran 4G di desa-desa yang ditunjuk dan penyebaran 5G di lokasi yang ditentukan, sementara pemegang lisensi 2,6GHz juga harus mengurangi interferensi dengan radar meteorologi (2700–2900MHz) dan layanan pita S yang berdekatan.
“Lelang ini sangat relevan bagi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT), karena spektrum pita rendah dan menengah tambahan sangat penting untuk menutup kesenjangan cakupan pedesaan dan memungkinkan monetisasi 5G,” ujar Daniel dalam risetnya pada 29 April 2026.
Daniel bilang bahwa XLSmart telah mengkonfirmasi partisipasinya, sementara Telkomsel telah menyatakan dukungan tetapi belum berkomitmen. Item-item kunci yang perlu dipantau meliputi harga cadangan, biaya hak penyelenggaraan (BHP) tahunan, struktur blok, dan kewajiban pembangunan, yang semuanya akan membentuk belanja modal sektor, rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU), dan lintasan margin.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat lelang spektrum untuk pengembangan 5G berpotensi menjadi positif jangka panjang (capacity & network quality). Namun, dalam jangka pendek, tambahan spektrum dapat meningkatkan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex), yang dalam kondisi rupiah melemah berisiko memperbesar tekanan biaya dan leverage.
Baca Juga: Bitcoin Masih Volatil, Begini Prediksi Arah dan Level Kunci Harga
Lebih lanjut Sukarno memproyeksikan kinerja emiten telekomunikasi pada kuartal II – 2026 berpotensi rebound moderat, didukung momentum dividend season (Mei–Juni) yang biasanya meningkatkan minat investor. “Namun, pemulihan cenderung lebih bersifat teknikal, dengan fundamental masih menghadapi tekanan dari biaya dan daya beli,” ucap Sukarno kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).
Tekanan utama masih berasal dari kompetisi harga (price war) yang menahan ARPU, serta capital outflow asing yang membatasi rerating valuasi sektor. Selain itu, pelemahan rupiah menjadi risiko tambahan karena sebagian belanja operasional dan capex (network equipment, spectrum-related cost) memiliki eksposur dolar Amerika Serikat (USD), sehingga berpotensi menekan margin.
Pergerakan sektor akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan tensi geopolitik, yang berdampak pada stabilitas rupiah dan daya beli domestik. “Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sehingga konsumsi paket data cenderung tidak agresif dalam jangka pendek,” terang Sukarno.
Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas mencatat bahwa Telkomsel memperkenalkan paket Seru, menurunkan imbal hasil dan penawaran rata-rata sebagai bagian dari kalibrasi ulang pasca-kenaikan setelah momen hari raya besar di dua kuartal sebelumnya. Sementara ISAT mempertahankan penawaran yang stabil pada April 2026. Lalu EXCL tetap menjadi yang paling tangguh, dengan imbal hasil rata-rata meningkat hingga 3% secara bulanan.
“Kami mempertahankan peringkat overweight pada sektor ini,” ucap Aurelia saat dikonfirmasi Kontan, Kamis (30/4/2029).
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (3/5) Tidak Berubah di Level Rp 2.796.000 Per Gram
Aurelia memperkirakan prospek peningkatan ARPU akan tetap utuh, meskipun ARPU kuartal II – 2026 mungkin menurun secara kuartalan karena pergeseran musim Idul Fitri ke kuartal I – 2026 dan kelelahan belanja setelah perayaan hari raya besar pada dua kuartal berturut-turut. Namun, secara tahunan, pertumbuhan ARPU kuartal kedua tahun 2026 kemungkinan akan tetap positif.
Terkait rekomendasi, Aurelia dan Daniel merekomendasikan buy saham EXCL dengan target harga masing – masing Rp 5.120 per saham dan Rp 4.300 per saham.
Sementara Sukarno merekomendasikan buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500 – Rp 4.000 per saham, buy saham ISAT dengan target harga Rp 2.400 per saham, dan buy saham EXCL dengan target harga Rp 3.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












