Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) berguguran seiring langkah investor asing melakukan aksi jual. Analis melihat prospek cerah saham blue chip untuk investasi karena bisa beli di harga murah.
Berdasarkan data perdagangan, pada Jumat (6/3/2026) investor asing membukukan net sell sebesar Rp 263 miliar atau setara US$ 15,54 juta.
Jika diakumulasi sejak awal tahun 2026, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 7,28 triliun hingga penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026). Nilai tersebut setara dengan US$ 430,62 juta.
Baca Juga: Prospek Saham Ritel Menguat Saat Ramadan–Lebaran, Ini Rekomendasi Analis
Penurunan harga
Data RTI menunjukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai net sell mencapai Rp 17,5 triliun. Tekanan jual tersebut turut membuat harga saham BBCA terkoreksi 12,77% sepanjang 2025.
Selanjutnya terdapat saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan net sell sebesar Rp 7,7 triliun. Saham emiten tambang batubara milik Grup Bakrie ini bahkan anjlok hingga 45,24% secara year to date.
Sementara itu saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masing-masing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,9 triliun. Dari sisi kinerja harga saham, BMRI terkoreksi 1,87% secara year to date. Sedangkan BBNI masih mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,23%.
Tonton: Terbongkar! ‘Ternak Yayasan’ di Program Makan Bergizi Gratis, BGN Ancam Putus Kontrak
Faktor Geopolitik Tekan Aliran Dana Asing
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee menilai arus dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah.
Menurut Hans, selama konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran masih memanas, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Tetapi jika proposal Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia diterima oleh MSCI, maka investor asing berpotensi kembali ke pasar saham setelah konflik mereda,” ujar Hans kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).
Kapan Dana Asing Berpotensi Kembali?
Chief Economist Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian mengatakan aliran dana asing pada paruh kedua 2026 masih sangat bergantung pada perkembangan global, khususnya konflik geopolitik dan stabilitas pasokan energi dunia.
Menurutnya, pasar saat ini masih menunggu kepastian arah hubungan geopolitik global serta posisi Indonesia dalam dinamika tersebut.
“Sampai pertengahan tahun kemungkinan dana asing belum kembali. Namun ketika muncul konsensus baru dan kondisi global membaik, arus inflow bisa kembali dengan cepat,” jelas Fakhrul.
Tonton: Trump Klaim Iran Menyerah Usai Minta Maaf Serang Negara Teluk, AS Ancam Serangan Lebih Besar!
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut investor saat ini masih bersikap hati-hati terhadap pasar saham Indonesia. Oleh karena itu investor disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik.
Ia juga menilai investor perlu mencermati saham yang mulai menunjukkan potensi pembalikan arah (reversal).
Menurut Nafan, saham dengan dividend yield menarik dan arus kas yang sehat menjadi pilihan yang relatif lebih aman di tengah volatilitas pasar.
Berikut target harga saham pilihan analis:
- BBCA – target harga Rp 9.750
- BMRI – target harga Rp 6.200
- BBNI – target harga Rp 4.770
- BUMI – target harga Rp 336
Sementara itu Hans Kwee juga menyarankan investor dapat menerapkan strategi buy on weakness pada beberapa saham unggulan seperti BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, ANTM dan ASII.
Dari sisi pergerakan indeks, Hans memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak pada area support 7.481 hingga 7.000 dan resistance di kisaran 7.700 sampai 8.098.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













