CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Saham Blue Chip Bank Ini Terus Mendaki, Masih Adakah Potensi Cuan untuk Ritel?


Selasa, 21 Juli 2026 / 09:30 WIB
Saham Blue Chip Bank Ini Terus Mendaki, Masih Adakah Potensi Cuan untuk Ritel?
ILUSTRASI. Kiwoom Sekurutas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 8.075 per saham.


Reporter: Adi Wikanto, Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Apakah saham perusahaan milik grup Djarum ini masih memiliki potensi cuan bagi investor ritel?

Pada pembukaan perdagangan Selasa (21/7), harga saham BBCA dibuka naik 72 poin ke Rp 6.525. Ini melanjutkan tren positif yang berlangsung sejak pekan lalu.

Selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham blue chip perbankan ini telah meningkat 400 poin atau 6,53%. Namun sejak awal tahun 2026, harga saham tersebut masih terkoreksi 1.500 poin atau 18,69%. 

Penguatan saham BBCA terjadi di tengah meningkatnya minat investor asing terhadap saham blue chip milik Grup Djarum tersebut. Data perdagangan menunjukkan BBCA menjadi saham dengan nilai pembelian bersih (net buy) asing terbesar dalam dua hari perdagangan terakhir.

Pada Kamis (16/7/2026), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 186,7 miliar di saham BBCA. Nilai pembelian asing kemudian melonjak menjadi Rp 698,3 miliar pada Jumat (17/7/2026), menjadikan BBCA sebagai saham yang paling banyak dikoleksi investor asing pada hari tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 9.000 Jadi Rp 2.601.000 per Gram, Selasa (21/7)

Di tengah derasnya arus dana asing, pasar juga diwarnai transaksi crossing saham BBCA dalam jumlah jumbo. Berdasarkan data pasar negosiasi BEI, pada Jumat (17/7/2026) terjadi transaksi crossing saham BBCA senilai sekitar Rp 1,2 triliun. Transaksi tersebut melibatkan 1,9 juta lot saham BBCA dengan harga rata-rata Rp 6.400 per saham.

Transaksi dilakukan melalui broker berkode BK atau J.P. Morgan Sekuritas Indonesia. Menariknya, broker BK tercatat sebagai pihak pembeli sekaligus penjual dengan nilai transaksi yang sama, yakni masing-masing sekitar Rp 1,2 triliun.

Selain melalui broker BK, pasar negosiasi juga mencatat transaksi saham BBCA melalui broker berkode HP atau Henan Putihrai Sekuritas.

Nilai transaksi melalui broker HP mencapai Rp 492,8 miliar dengan volume 666 lot pada harga rata-rata Rp 7.400 per saham. Sementara itu, transaksi melalui broker lain seperti XL, SQ, YU, DX, ZP, dan AK tercatat memiliki nilai yang relatif lebih kecil dibandingkan transaksi melalui broker BK dan HP.

Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Selasa (21/7) Pagi, Ketegangan di Timur Tengah Membayangi

Rekomendasi Saham BBCA 

Meskipun harga saham terus naik, Kiwon Sekuritas menilai ada potensi cuan besar di saham BBCA. Kiwoom Sekurutas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 8.075 per saham.

Rekomendasi saham ini didukung kinerja Bank BCA yang bagus pada awal tahun. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan kinerja BBCA pada kuartal I-2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah lingkungan operasional yang lebih menantang dibandingkan periode sebelumnya. 

Pendapatan operasional BBCA mencapai Rp 27,8 triliun atau tumbuh 3,3% secara tahunan. Kenaikan tersebut didukung pertumbuhan pendapatan nonbunga menjadi Rp 6,6 triliun, meski pendapatan bunga bersih relatif stagnan. 

Laba bersih BBCA tercatat Rp 14,7 triliun pada kuartal pertama 2026 atau meningkat 3,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut ditopang efisiensi biaya operasional yang menjaga profitabilitas tetap stabil.

"Meski pertumbuhan kredit melambat dan margin bunga bersih tertekan, fundamental inti BBCA tetap kuat berkat basis dana murah yang solid, struktur biaya yang efisien, serta pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif," tulis Liza dalam riset yang dirilis, Kamis (16/7/2026).

Adapun penyaluran kredit BBCA mencapai Rp 993,8 triliun atau tumbuh 5,6% secara tahunan. Pertumbuhan terutama berasal dari kredit korporasi, komersial, dan UMKM, sementara kredit konsumer masih melemah. 

Di sisi pendanaan, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 11,2% menjadi Rp 1.089 triliun. Pertumbuhan tersebut memperkuat keunggulan biaya dana BBCA di tengah persaingan likuiditas industri. 

Liza menyebut kualitas aset BBCA masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau gross non-performing loan (NPL) berada di level 1,8%, sedangkan loan at risk (LAR) tercatat sebesar 5,1%. 

Menurut Liza, potensi kenaikan kinerja BBCA masih terbuka apabila pertumbuhan kredit kembali meningkat, tekanan margin bunga bersih mereda, dan kemampuan menghimpun dana murah tetap terjaga. 

"Namun risiko utama BBCA datang dari tekanan margin bunga bersih yang berkepanjangan, pertumbuhan kredit yang lebih lemah serta memburuknya kondisi makroekonomi," jelas Liza.




 

Skandal Proyek Batu Bara PLN! Negara Rugi Rp38,9 Miliar, Tiga Jadi Tersangka

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×