Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengumumkan data indeks penjualan riil (IPR) Mei 2026 diprediksi mencapai 225,0.
Angka tersebut terkontraksi 3,2% secara tahunan, melanjutkan kontraksi di April sebesar 3,7% secara tahunan.
Secara bulanan, IPR juga tercatat turun 0,9% pada Mei 2026, melanjutkan tren pelemahan setelah sebelumnya merosot 11,6% pada April 2026.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan pelemahan IPR tentu menjadi indikator bahwa konsumsi masyarakat masih belum terlalu kuat, sehingga menjadi sentimen negatif untuk sektor ritel.
Dengan proyeksi IPR Mei 2026 turun 3,2% secara tahunan dan turun 0,9% secara bulanan, terlihat bahwa saat ini masyarakat cenderung lebih selektif dalam berbelanja.
Baca Juga: Dampak Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen ke Emiten Konsumer & Saham Pilihan Analis
Namun, kondisi ini tidak secara langsung membuat prospek seluruh emiten ritel menjadi redup. Dampaknya tetap akan berbeda-beda, tergantung pada segmen bisnis masing-masing emiten.
Untuk segmen kebutuhan pokok, prospeknya relatif lebih defensif karena permintaan masih akan tetap ada. Hanya saja, konsumen kemungkinan akan lebih sensitif terhadap harga dan cenderung mencari produk yang lebih terjangkau.
"Secara umum, saya belum melihat sektor ritel sepenuhnya redup. Yang terjadi lebih ke arah normalisasi konsumsi dan pergeseran perilaku belanja," kata Ekky kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Emiten yang memiliki jaringan luas, produk kebutuhan harian, efisiensi biaya, dan strategi harga yang kompetitif masih berpeluang mencatat kinerja yang cukup baik, contohnya ialah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
AMRT lewat jaringan Alfamart punya eksposur besar ke produk kebutuhan pokok dan daily needs, sehingga relatif lebih defensif ketika konsumsi melemah.
MIDI juga mirip, karena Alfamidi banyak menjual kebutuhan harian, fresh food, dan produk rumah tangga, sehingga permintaannya cenderung lebih stabil.
Baca Juga: Emiten Ritel Memburu Berkah Imlek dan Ramadan
Sebaliknya, emiten yang lebih bergantung pada belanja sekunder atau produk non-primer akan lebih rentan jika daya beli belum pulih, misalnya PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan PT MDS Retailing Tbk (LPPF).
"ACES dan MDIY menjual produk kebutuhan rumah, perkakas, dan lifestyle rumah tangga, sehingga sebagian belanjanya masih bisa ditunda oleh konsumen," tambah Ekky.













