Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Dihubungi terpisah, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menyampaikan kontraksi IPR menunjukkan daya beli kelas menengah masih lemah, dampaknya tidak merata.
"Peritel barang esensial seperti AMRT dan MIDI relatif tahan berkat basis mass market dan ticket size kecil. Peritel discretionary ialah ACES dan MDIY lebih sensitif karena bergantung pada belanja yang bisa ditunda," jelas Abida kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Pertumbuhan Laba Emiten Ritel Tahun 2025 Ditopang Strategi Ekspansi
Dari sisi prospek, kinerja emiten ritel masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek, meski belum menunjukkan pelemahan yang bersifat struktural.
Sejumlah katalis pada paruh kedua 2026 dinilai cukup kuat untuk menopang konsumsi, di antaranya rencana penyaluran bantuan sosial tunai (BLT) sebesar Rp5,4 juta per orang per tahun yang ditargetkan mulai diterapkan pada akhir 2026 melalui sistem Digital Single ID berbasis AI, percepatan distribusi bantuan pangan kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta dorongan konsumsi dari momentum musiman menjelang akhir tahun.
Rekomendasi Saham
Dari sisi rekomendasi saham, Ekky berpendapat AMRT saat ini berada di posisi yang sudah cukup murah dan bisa mulai dicermati untuk akumulasi bertahap. Target terdekat AMRT ada di area Rp1.400–Rp1.425, dengan target swing di area Rp1.500–Rp1.600.
MIDI juga menarik untuk diperhatikan karena secara teknikal mulai ada sinyal perbaikan, terlihat dari MACD yang mulai golden cross, dengan target di area Rp330–Rp340. Opsi lain yang bisa dicermati adalah ACES, dengan target di area Rp390–Rp400,
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












