Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam satu dekade. Meski demikian, pasar masih menantikan sejumlah katalis penting, termasuk hasil peninjauan indeks MSCI pada Agustus dan keputusan mengenai penghentian sementara (freeze) penambahan konstituen indeks.
Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin dalam risetnya tertanggal 24 Juli 2026 menyebutkan bobot Indonesia di MSCI EM kini telah stabil di kisaran 0,5%, setelah sempat menyentuh titik terendah 0,4% pada Juni 2026. Sebagai perbandingan, pada Desember 2025 bobot Indonesia masih berada di level 1,2%.
Menurut Wilbert, stabilisasi tersebut didorong oleh kinerja pasar saham Indonesia yang membaik. Sepanjang Juli 2026 hingga saat ini alias month-to-date (MTD), MSCI Indonesia menguat 12,5%, berbanding terbalik dengan MSCI Emerging Markets yang justru terkoreksi sekitar 4%.
Baca Juga: Gubernur BI Mundur, Begini Proyeksi Arah Pergerakan IHSG Hari Ini (27/7)
"Kondisi ini terjadi seiring meredanya penguatan saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI) di pasar global serta terkoreksinya pasar saham Korea Selatan sebesar 21,6% secara MTD," tulis Wilbert dalam risetnya.
Perbaikan juga tercermin dari aliran dana asing. Arus keluar (foreign outflow) selama Juli menyusut menjadi sekitar Rp 4,1 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata outflow bulanan sebesar Rp 12,3 triliun pada semester I 2026.
Meski demikian, Wilbert menilai pemulihan bobot Indonesia masih berada pada tahap awal. Kenaikan yang lebih signifikan baru dapat terjadi apabila MSCI mencabut kebijakan freeze terhadap penambahan maupun kenaikan status konstituen indeks.
Sementara itu, perhatian pasar kini tertuju pada hasil tinjauan kuartalan MSCI yang akan diumumkan pada 13 Agustus 2026 dan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Dalam peninjauan tersebut, Mirae Asset memperkirakan tidak akan ada saham baru yang masuk ke indeks maupun migrasi naik karena kebijakan freeze masih berlaku. Sebaliknya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diperkirakan akan mengalami penurunan status setelah kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float berada di bawah ambang batas akibat pelemahan harga saham sekitar 22,5% sejak peninjauan Mei lalu.
Di sisi lain, nasib PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih menjadi tanda tanya terbesar.
Wilbert menjelaskan, secara kriteria umum GOTO masih memenuhi persyaratan likuiditas MSCI, dengan rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) tiga bulan sebesar 41,3% dan 12 bulan sebesar 72,8%, jauh di atas ambang batas masing-masing 5% dan 10%.
Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur dari BI, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Pasar Keuangan
Namun, MSCI juga memiliki ruang diskresi dalam menilai kemudahan replikasi indeks oleh investor. Harga saham GOTO yang masih bertahan di level batas bawah (tick floor) Rp50 dan ATVR Juli yang turun menjadi hanya 0,6% dinilai dapat menjadi pertimbangan tersendiri.
"Kami menilai peluang GOTO tetap bertahan sedikit lebih besar daripada sekadar 50:50, tetapi belum cukup kuat untuk memastikan saham tersebut aman dari penghapusan," ujar Wilbert.
Mirae Asset memperkirakan perpindahan status CPIN berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp 500 miliar atau setara sekitar 150 juta saham. Jika GOTO juga dikeluarkan dari indeks, tambahan arus keluar diperkirakan mencapai sekitar Rp 1 triliun atau sekitar 20 miliar saham.
Meski demikian, Wilbert menilai dampak terhadap pasar secara keseluruhan relatif terbatas. Penurunan bobot Indonesia di MSCI EM diperkirakan hanya sekitar 0,01 poin persentase apabila hanya CPIN yang terdampak, atau sekitar 0,03 poin persentase jika GOTO juga keluar dari indeks.
"Nilai tersebut relatif kecil dibandingkan kenaikan kapitalisasi pasar Indonesia sepanjang Juli sehingga potensi tekanan dari arus keluar dana pasif diperkirakan dapat diserap pasar," tulisnya.
Ke depan, Mirae Asset tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026. Wilbert menilai kondisi pasar mulai membaik dengan bobot Indonesia yang telah stabil di level rendah, komposisi indeks yang semakin bersih, serta mulai bergesernya kepemimpinan pasar negara berkembang dari saham-saham bertema AI.
Karena itu, Mirae Asset merekomendasikan investor memanfaatkan potensi pelemahan pasar akibat penyesuaian indeks MSCI yang efektif pada 31 Agustus sebagai momentum akumulasi. Meski demikian, kepastian pemulihan yang lebih kuat masih bergantung pada keputusan MSCI terkait pencabutan kebijakan freeze yang diperkirakan baru akan lebih jelas pada peninjauan November mendatang.
Baca Juga: Ekalya Purnamasari (ELPI) Rampungkan Rights Issue, Himpun Dana Rp 739,34 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














