kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.694   108,00   0,61%
  • IDX 6.470   -252,97   -3,76%
  • KOMPAS100 859   -34,67   -3,88%
  • LQ45 638   -20,11   -3,06%
  • ISSI 234   -8,67   -3,57%
  • IDX30 362   -9,19   -2,48%
  • IDXHIDIV20 447   -8,29   -1,82%
  • IDX80 98   -3,68   -3,61%
  • IDXV30 127   -2,61   -2,01%
  • IDXQ30 117   -2,43   -2,04%

Bukan Rupiah, Ini Mata Uang dengan Kinerja Terburuk di Asia Sepanjang 2026


Senin, 18 Mei 2026 / 11:52 WIB
Bukan Rupiah, Ini Mata Uang dengan Kinerja Terburuk di Asia Sepanjang 2026
ILUSTRASI. Rupee India kini menjadi mata uang terburuk di Asia


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - MUMBAI.  Rupee India jatuh ke titik terendah sepanjang masa pada perdagangan awal pekan ini. Tekanan bagi rupee datang karena harga energi yang tetap tinggi akibat perang Iran menyebabkan imbal hasil obligasi global melonjak, mengurangi selera risiko dan memperdalam hambatan ekonomi yang dihadapi oleh importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia.

Senin (18/5/2026) pukul 11.30 WIB, nilai tukar rupee turun hampir 0,3% menjadi 96,2275 per dolar Amerika Serikat (AS), melampaui titik terendah sepanjang masa sebelumnya di 96,1350. 

Rupee pun menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada tahun 2026 telah jatuh ke level terendah sepanjang masa selama lima sesi berturut-turut.

Baca Juga: Rupiah Kian Tertekan Rp 17.672, Komentar Prabowo Dinilai Picu Persepsi Negatif Pasar

Para investor mengatakan, kerugian akan lebih besar jika bukan karena kemungkinan intervensi penjualan dolar oleh Reserve Bank of India.

Selain intervensi pasar, para pembuat kebijakan India telah menerapkan pembatasan regulasi yang jarang terjadi untuk mendukung rupee, termasuk, yang terbaru, pembatasan impor sebagian besar perak.

Rupee telah melemah 5,5% sejak perang Iran dimulai.

"Dengan kemungkinan harga minyak tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama, kami merevisi perkiraan kami untuk pelemahan INR lebih lanjut menjadi 96 per dolar AS pada pertengahan 2026 dan 98 per dolar AS pada akhir 2026," kata analis di BofA Global Research dalam sebuah catatan.

"Risiko pertumbuhan meredam prospek pembalikan arus masuk ekuitas, sementara imbal hasil rendah, biaya lindung nilai tinggi, kekhawatiran seputar defisit fiskal yang lebih luas, dan kenaikan suku bunga akan mengurangi ruang lingkup arus utang."

Investor luar negeri telah menjual bersih lebih dari US$ 23,5 miliar saham dan obligasi lokal sejak Maret.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Tembus ke Ro 17.628 Per Dolar AS di Hari Ini (18/5), Seluruh Asia Turun

Saham regional merosot dan obligasi dari Tokyo hingga New York memperpanjang kerugian karena kenaikan harga energi akibat perang Timur Tengah yang sedang berlangsung memicu kekhawatiran inflasi.

Upaya untuk mengakhiri perang Iran tampaknya terhenti setelah serangan pesawat tak berawak di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab.

Tekanan tersebut juga tercermin pada aset-aset India, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 7,12% sementara indeks ekuitas acuan Nifty '50 merosot lebih dari 1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×