kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Kinerja reksadana campuran minus, SAM Mutiara Nusa Campuran jadi jawara di kelasnya


Minggu, 03 Januari 2021 / 12:51 WIB
Kinerja reksadana campuran minus, SAM Mutiara Nusa Campuran jadi jawara di kelasnya
ILUSTRASI. Kinerja reksadana campuran di tahun 2020 minus 0,36%


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah terpaan ketidakpastian ekonomi selama pandemi Covid-19, kinerja reksadana campuran pun tak bisa maksimal. Secara tahunan, kinerja reksadana campuran justru tercatat negatif. 

Hal ini tercermin dari Infovesta Balanced Fund Index yang sepanjang 2020 justru berkinerja -0,36%.

Kendati kinerja industri reksadana campuran tertekan, nyatanya beberapa reksadana campuran justru mampu mengungguli kinerja indeks acuan tersebut. Salah satunya adalah reksadana SAM Mutiara Nusa Campuran yang dikelola oleh Samuel Aset Manajemen (SAM).

Merujuk data dari Infovesta Utama, sepanjang 2020 reksadana SAM Mutiara Nusa Campuran berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 68,43%. Dengan kinerja tersebut, SAM Mutiara Nusa Campuran pun menjadi jawara di kelas aset reksadana campuran pada tahun 2020.

Baca Juga: Kinerja reksadana pendapatan tetap tertinggi tahun lalu, reksadana saham terjeblok

Investment Strategist & Senior Portfolio Manager SAM Gema Darmawan mengungkapkan, sifat reksadana campuran yang punya fleksibilitas tinggi dalam melakukan alokasi aset menjadi salah satu faktor moncernya kinerja SAM Mutiara Nusa Campuran. 

Gema menyebut, pada awal tahun ini, pihaknya menyusun alokasi aset SAM Mutiara Nusa Campuran dengan menjadikan efek berbasis pendapatan tetap dan pasar uang sebagai portofolio mayoritas.

“Jadi ketika terjadi koreksi besar-besaran mulai Maret kemarin, bisa dibilang Nilai Aktiva Bersih (NAB) SAM Mutiara Nusa Campuran cenderung tidak mengalami koreksi. ketika pasar mulai pulih, kami pun menambah porsi alokasi pada efek saham hingga 60-75% dan NAB-nya pun mengalami kenaikan seiring membaiknya sentimen pasar,” ungkap Gema kepada Kontan.co.id, Rabu (30/12).

Dalam penyusunan portofolio SAM Mutiara Nusa Campuran sepanjang tahun kemarin, Gema menyebut SAM menerapkan strategi berbasis pemanfaatan momentum pasar yang dinamis. Oleh sebab itu, pemilihan efek-efek yang likuid menjadi kunci agar alokasi aset bisa lebih fleksibel. 

Tak hanya likuid, saham-saham yang berkualitas big names dan memiliki imbal hasil dividen yang tinggi pun turut menjadi kriterianya.

Dengan kondisi optimisme pemulihan ekonomi, Gema bilang, saat ini porsi saham pada SAM Mutiara Nusa Campuran menjadi portofolio utama berkisar 70%. 
Adapun, untuk pilihan sahamnya, sektor cyclicals seperti perbankan, otomotif, ritel, komoditas, dan konstruksi jadi pilihan ketimbang sektor defensif seperti barang konsumsi dan utilitas.

“Untuk kriteria sahamnya lebih beragam ketimbang tahun lalu. Pada tahun ini akan berisi mulai dari mid cap dengan memperhatikan neraca keuangan emiten, valuasi, likuiditas, dan mewakili perbaikan ekonomi (proxy to recovery). Sementara pada sisi obligasi, kami akan cenderung memilih berinvestasi pada SUN,” tambah Gema.

Ke depan, dia optimistis SAM Mutiara Nusa Campuran masih akan tumbuh positif seiring dengan membaiknya sentimen pasar. Gema menyebut setidaknya terdapat empat katalis positif yang bisa menopang kinerja reksadana campuran. 

Baca Juga: Investor ritel domestik bikin rekor frekuensi transaksi BEI 1,7 juta kali sehari

Mulai dari likuiditas yang berlimpah seiring masifnya stimulus fiskal dan moneter, perbaikan harga komoditas, ekonomi Asia Timur yang sudah mulai pulih akan beri dampak positif ke Indonesia, hingga kembalinya aliran dana investor asing seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

“Sementara dari sisi risiko yang membayangi, jika sampai terjadi ketegangan geopolitik sehingga aset berisiko dihindari. Lalu, terjadi kendala pada proses distribusi maupun efektivitas vaksin Covid-19 yang bisa memperlambat proses pemulihan aktivitas ekonomi,” pungkas Gema.

Selanjutnya: Hingga 29 Desember 2020, investor pasar modal mencapai 3,87 juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×