Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia termasuk ke jajaran negara yang dikenakan tarif tinggi dalam kebijakan impor terbaru Amerika Serikat (AS). Bersama sejumlah negara lain yang terimbas, Indonesia berpotensi masuk dalam perang dagang global dan mendorong turun nilai rupiah.
Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif baru untuk barang-barang impor yang masuk ke AS. Sejumlah negara yang dinilai membebankan tarif besar untuk produk impor AS dan menghambat perdagangan mendapat tarif tambahan. Salah satunya Indonesia, dengan tarif 32%.
Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita Situmorang memprediksi kebijakan tarif Trump ini akan memicu tindakan balasan dari Indonesia. “Dengan tarif 32%, Indonesia berpotensi masuk dalam perang dagang global,” ungkapnya kepada Kontan.co.id, Kamis (3/4).
Baca Juga: Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Akibat Tarif Terbaru Trump
Jika eskalasi perang dagang terjadi, Hosianna menilai pasar akan melihat Indonesia sebagai negara yang lebih berisiko. Investor yang memiliki aset dalam rupiah pun berpotensi keluar (capital outflow). Alhasil, tekanan terhadap rupiah meningkat.
Rupiah telah merosot di level Rp 16.745 pada penutupan pasar Kamis (3/4). Nilai tersebut menjadi rekor terendah rupiah sepanjang masa, mengalahkan level terendahnya di Rp 16.650 pada 17 Juni 1998 saat krisis moneter terjadi.
Menurut Hosianna, hal ini terjadi seiring risk-off pelaku pasar dari aset emerging market yang berisiko tinggi di situasi saat ini. “Tekanan terhadap rupiah tetap ada meskipun indeks dolar AS melemah,” jelasnya.
Untuk menanggulangi kemerosotan nilai rupiah, Bank Indonesia (BI) diharapkan terus melakukan intervensi untuk mencegah rupiah menyentuh level Rp 17.000. Sehingga meski masih akan tertekan dalam waktu dekat, rupiah bisa kembali menguat untuk jangka menengah.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif Impor 32% untuk Indonesia, Begini Respons ALFI
Di samping itu, Hosianna menilai pemerintah Indonesia bisa mengambil sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif Trump terhadap rupiah dan ekonomi Indonesia.
Pertama, pemerintah dapat melancarkan advokasi diplomatik dan negosiasi bilateral dengan AS. Trump menetapkan tarif 32% terhadap Indonesia berdasarkan klaim tarif 64% dari Indonesia untuk barang-barang AS. Klaim ini, menurut Hosianna, tidak akurat dan dapat dinegosiasikan.
Kedua, pemerintah dapat mengesampingkan pasar AS dengan memperluas cakupan ekspor ke negara-negara lain dan memperkuat hubungan dagang dengan China, Uni Eropa, serta negara-negara Asia lainnya.
Ketiga, pemerintah dapat menawarkan insentif bagi investor asing yang tidak terkena kebijakan ini, seperti Asia Timur dan Timur Tengah. Hal ini guna menghindari potensi penurunan investasi dari AS yang dapat menekan rupiah.
Baca Juga: Tarif Trump Bikin Bursa Asia Anjlok, Ini Pengaruhnya ke Indonesia
Keempat, pemerintah juga dapat mempercepat penguatan industri substitusi impor guna mengurangi ketergantungan pada ekspor ke AS.
Kebijakan Trump Tariff telah menjadi perhatian global saat ini. Selain Indonesia, Trump juga mengenakan pajak tinggi kepada sejumlah negara Asia lain, yaitu China (54%), Vietnam (46%), Taiwan (32%), dan Jepang (24%).
Selanjutnya: Negara Asia Tenggara Terguncang Tarif Trump, Vietnam dan Thailand Siapkan Negosiasi
Menarik Dibaca: 9 Rekomendasi Buah Penurun Gula Darah yang Tinggi dan Terbukti Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News