Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri reksadana nasional masih menghadapi tekanan pada awal 2026. Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan domestik, reksadana pasar uang menjadi satu-satunya instrumen yang mencatatkan kinerja positif secara year to date (YtD).
Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata kinerja reksadana pasar uang tumbuh 1,3% sejak awal tahun. Sebaliknya, reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja negatif sebesar 0,3%, reksadana campuran turun 2%, dan reksadana saham terkoreksi hingga 5,3%.
Dalam riset periode 23 April 2025 hingga 23 April 2026, Infovesta mencatat terdapat 138 produk reksadana pasar uang dengan dana kelolaan rata-rata di atas Rp 10 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen pasar uang masih menjadi pilihan utama investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai bahwa awal tahun ini merupakan periode yang cukup menantang bagi industri reksadana.
"Pada kuartal III diperkirakan jenis pasar uang masih akan positif, untuk pendapatan tetap masih mengalami tekanan dari potensi inflasi dan pelemahan rupiah, campuran dan saham masih berpotensi di teritori negatif," ujar Wawan kepada Kontan, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: Awal Pekan, Rupiah Lanjut Menguat Ditopang Pelemahan Dolar AS
Menurut Wawan, faktor likuiditas dan keamanan menjadi pertimbangan utama investor dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Oleh karena itu, reksadana pasar uang dinilai masih relevan sebagai instrumen parkir dana jangka pendek.
Sementara itu, untuk investor dengan horizon jangka menengah, reksadana pendapatan tetap masih dapat dipertimbangkan meskipun tengah mengalami tekanan harga.
"Untuk investor jangka menengah hingga 3 tahun maka reksadana pendapatan tetap dapat dilihat, walau harga sedang tertekan namun pendapatan kupon dalam 3 tahun kira-kira mencapai 18-27% dalam tiga tahun, sehingga pelemahan harga sepanjang di bawah itu akan tertutup," kata Wawan.
Adapun untuk reksadana campuran dan saham, investor disarankan untuk bersikap wait and see seiring dengan tingginya volatilitas pasar yang masih berlangsung.
Baca Juga: OJK Kebut ETF Emas, Tiga Manajer Investasi Mulai Susun Prospektus
Ke depan, Wawan memproyeksikan bahwa return reksadana pasar uang sepanjang 2026 berada di kisaran 4%. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap diperkirakan mampu mencetak imbal hasil sebesar 3%–6%. Namun, reksadana campuran dan saham masih berpotensi mencatatkan kinerja negatif hingga kondisi pasar membaik.
Di sisi lain, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengingatkan pentingnya pemahaman investor terhadap produk reksadana sebelum berinvestasi.
"Jangan lupa belajar, semudah apa pun karena dipercayakan kepada pengelola yang ahlinya yaitu manajer investasi, tetap saja investor harus tahu ada risiko-risiko yang menyertai kegiatan investasinya," kata Hasan, Senin (27/4/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












