Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua emiten rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), mencatat kinerja laba yang berlawanan sepanjang 2025.
Di tengah pelemahan penjualan industri, GGRM mampu mencetak lonjakan laba, sementara HMSP justru mengalami penurunan tipis.
HMSP membukukan laba bersih Rp 6,61 triliun pada 2025, turun 0,54% secara tahunan dari Rp 6,64 triliun. Sebaliknya, GGRM mencatat lonjakan laba bersih 58,69% menjadi Rp 1,56 triliun dari Rp 980,8 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski arah laba berbeda, keduanya menghadapi tekanan serupa dari sisi penjualan yang sama-sama menurun. Kondisi ini mencerminkan permintaan industri rokok yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Hari Ini dari BRI Danareksa Sekuritas (8/4)
Analis menilai perbedaan kinerja laba kedua emiten lebih dipengaruhi faktor non-operasional dan efisiensi biaya.
GGRM berhasil mengerek laba terutama dari langkah efisiensi, bukan dari pertumbuhan permintaan. Sementara HMSP terbebani lonjakan pajak satu kali serta penurunan pendapatan bunga.
“Jika dilihat dari kinerja operasional inti, laba bersih HMSP pada kuartal III justru tumbuh 24,9% YoY, menandakan pemulihan profitabilitas inti yang sesungguhnya sedang berjalan,” ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand.
Dari sisi struktur bisnis, HMSP dinilai menghadapi tekanan margin lebih besar akibat tren downtrading, pergeseran konsumsi ke produk lebih murah, serta struktur biaya yang relatif kaku.
Sebaliknya, GGRM diuntungkan oleh efisiensi dan basis laba yang rendah pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Migas Saat Harga Minyak Mendidih
Memasuki 2026, industri tembakau diperkirakan memasuki fase stabilisasi. Tidak adanya kenaikan cukai menjadi sentimen positif bagi margin dan daya beli, meski tekanan dari penurunan volume dan peredaran rokok ilegal masih membayangi.
Pengetatan distribusi rokok ilegal sejak Oktober 2025 dinilai menjadi faktor kunci pemulihan volume penjualan legal. Namun, pemulihan tersebut diperkirakan berlangsung bertahap.
Secara proyeksi, laba HMSP berpotensi tumbuh dua digit didorong efek basis rendah dan stabilnya cukai. Sementara GGRM diperkirakan melanjutkan pemulihan, meski pertumbuhannya tetap terbatas karena belum ditopang permintaan yang kuat.
Pendapatan kedua emiten diproyeksikan hanya tumbuh tipis, di kisaran low hingga mid single digit, seiring normalisasi industri dan perbaikan margin secara gradual.
Dari sisi strategi investasi, analis menyarankan pendekatan selektif.
Saham HMSP dinilai lebih cocok untuk strategi hold, mengingat karakter defensif dan potensi dividen yang tetap menarik, dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 850–Rp 900.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Raih Kinerja Positif di Tahun 2025
Namun, ruang kenaikan dinilai terbatas selama tekanan margin belum sepenuhnya mereda.
Sebaliknya, GGRM dinilai lebih menarik untuk strategi buy on weakness, memanfaatkan momentum perbaikan efisiensi dan potensi pemulihan kinerja. Target harga jangka pendek diperkirakan berada di rentang Rp 15.500–Rp 17.000, meski risiko dari lemahnya permintaan masih perlu dicermati.
Secara keseluruhan, pergerakan kedua saham ini pada 2026 akan sangat ditentukan oleh keberhasilan industri keluar dari tekanan konsumsi dan efektivitas pengendalian rokok ilegal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













