Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Secara proyeksi, laba HMSP berpotensi tumbuh dua digit didorong efek basis rendah dan stabilnya cukai. Sementara GGRM diperkirakan melanjutkan pemulihan, meski pertumbuhannya tetap terbatas karena belum ditopang permintaan yang kuat.
Pendapatan kedua emiten diproyeksikan hanya tumbuh tipis, di kisaran low hingga mid single digit, seiring normalisasi industri dan perbaikan margin secara gradual.
Dari sisi strategi investasi, analis menyarankan pendekatan selektif.
Saham HMSP dinilai lebih cocok untuk strategi hold, mengingat karakter defensif dan potensi dividen yang tetap menarik, dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 850–Rp 900.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Raih Kinerja Positif di Tahun 2025
Namun, ruang kenaikan dinilai terbatas selama tekanan margin belum sepenuhnya mereda.
Sebaliknya, GGRM dinilai lebih menarik untuk strategi buy on weakness, memanfaatkan momentum perbaikan efisiensi dan potensi pemulihan kinerja. Target harga jangka pendek diperkirakan berada di rentang Rp 15.500–Rp 17.000, meski risiko dari lemahnya permintaan masih perlu dicermati.
Secara keseluruhan, pergerakan kedua saham ini pada 2026 akan sangat ditentukan oleh keberhasilan industri keluar dari tekanan konsumsi dan efektivitas pengendalian rokok ilegal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













