kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

BI Rate Naik, SBN Floating Jadi Incaran di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga BI


Senin, 25 Mei 2026 / 17:47 WIB
BI Rate Naik, SBN Floating Jadi Incaran di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga BI
ILUSTRASI. Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) berbasis kupon mengambang atau floating dinilai semakin menarik di tengah tren kenaikan suku bunga acuan dan tingginya volatilitas pasar keuangan global.

Berdasarkan data pasar, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun berada di level 92,11. Sementara itu, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor lima tahun turun tipis menjadi 6,73% dari sebelumnya 6,74%. Yield SUN tenor 10 tahun juga turun marginal dari 6,86% menjadi 6,85%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual memperkirakan tren kupon obligasi di sisa tahun ini cenderung meningkat sebagai respons terhadap kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps), terutama untuk SBN dengan skema floating with floor.

Baca Juga: Rebalancing MSCI Picu Outflow, Tekanan IHSG Juga Dipengaruhi Ketidakpastian Kebijakan

"Dalam kondisi seperti ini, dengan tenor jangka pendek hingga menengah mungkin cocok di SBN ritel terutama seri floating," ujar David kepada Kontan, Senin (25/5).

Seri floating yang dimaksud antara lain Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST). Instrumen tersebut memiliki kupon mengambang yang mengikuti pergerakan suku bunga acuan, tetapi tetap memiliki batas minimal imbal hasil.

Di sisi lain, David menilai obligasi Fixed Rate (FR) masih menarik untuk investasi jangka panjang, khususnya bagi investor yang memburu potensi capital gain ketika tren suku bunga mulai menurun.

Sebagai informasi, berdasarkan Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Jumat (22/5) yield FR0108 tenor 10 tahun turun dari 6,75% menjadi 6,69%. Sementara itu, yield FR0107 tenor 20 tahun naik tipis dari 6,81% menjadi 6,82%.

David memperkirakan pergerakan yield SUN dalam enam hingga 12 bulan ke depan berpotensi melandai. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada keberhasilan stabilisasi nilai tukar rupiah serta prospek pemangkasan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ia juga menyarankan sejumlah strategi agar investor ritel tetap memperoleh imbal hasil optimal di tengah tren kenaikan suku bunga, antara lain menjaga manajemen arus kas dan lindung nilai serta melakukan switching ke obligasi korporasi jangka pendek dengan peringkat tinggi.

Selain itu, investor obligasi perlu memperhatikan sejumlah risiko utama ketika suku bunga tinggi, seperti durasi obligasi, risiko kredit, dan yield spread.

"Semakin panjang tenor obligasi, maka potensi penurunan harga akan semakin besar ketika suku bunga naik," kata David.

Baca Juga: Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed, Begini Prospek Rupiah Selasa (26/5)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×