kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Vale (INCO) Saat Produksi Nikel Naik


Kamis, 17 September 2026 / 05:05 WIB
Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Vale (INCO) Saat Produksi Nikel Naik
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham dan proyeksi kinerja Vale Indonesia (INCO) saat produksi nikel naik (Dok/INCO)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih dibayangi fluktuasi harga komoditas nikel global dan kenaikan biaya energi di tengah upaya memperluas diversifikasi produk tambangnya.

Manajemen perseroan berupaya memacu pertumbuhan penjualan dan efisiensi operasional guna memitigasi ketidakpastian makroekonomi pada semester kedua 2026.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie mengatakan, kinerja operasional INCO berada di jalur pemulihan yang solid secara berurutan pada semester kedua 2026. Pertumbuhan penjualan dan lonjakan volume produksi menjadi katalis pendorong utama kinerja emiten tambang nikel ini.

Secara operasional, INCO mencatatkan peningkatan produksi nikel matte sebesar 19% secara kuartalan (Quarter on Quarter/QoQ) menjadi 16.153 ton pada kuartal II 2026.

Baca Juga: Saham Global Menguat, Yield US Treasury Turun Jelang Keputusan The Fed

Pencapaian tersebut mendorong total volume produksi nikel matte INCO pada semester pertama 2026 hingga menyentuh angka 29.773 ton.

Adrian menyoroti keberhasilan perseroan dalam mempertahankan disiplin operasional di tengah dinamika pasar. Pencapaian produksi nikel matte pada semester pertama 2026 tersebut utamanya ditopang oleh penyelesaian proyek rebuild Electric Furnace 3 pada Juni 2026.

"Disiplin operasional perusahaan yang kuat serta peningkatan kapasitas memberikan landasan yang kokoh untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah kondisi pasar yang dinamis," terang Adrian dalam risetnya, (7/8/2026).

Peningkatan kapasitas operasional tersebut berdampak positif terhadap realisasi volume penjualan Vale Indonesia. Penjualan bijih nikel (nickel ore) INCO mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan pada kuartal kedua 2026.

Blok Bahodopi membukukan penjualan saprolite ore sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt). Sementara itu, penjualan bijih nikel dari Blok Pomalaa tercatat melesat hingga mencapai 496 ribu wmt.

Kenaikan volume tersebut mendorong kinerja keuangan segmen bijih nikel secara drastis. Secara keseluruhan, pendapatan segmen nickel ore INCO melonjak hingga 2.840% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 142 juta pada semester I-2026.

Pencapaian luar biasa ini menopang total pendapatan INCO yang tumbuh 27% YoY, mencapai US$ 543 juta.

Baca Juga: Dolar Bertahan di Level Tertinggi Dua Pekan Jelang Keputusan The Fed

Laba bersih INCO pada semester pertama 2026 pun meledak 313% yoy menjadi US$ 104 juta berkat efisiensi struktur biaya. Pada kuartal kedua 2026 saja, laba bersih INCO tercatat mencapai US$ 61 juta atau melonjak 39% secara kuartalan.

Meskipun biaya energi global seperti HSFO, diesel, dan batubara meningkat, cash cost nikel matte INCO pada kuartal II-2026 berhasil membaik menjadi US$ 10.005 per ton. Margin laba kotor INCO meningkat menjadi 28,04% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,07%.

Di sisi lain, Analis UBS Global Research Igor Putra menggarisbawahi efisiensi biaya serta ramp up volume produksi yang berhasil melampaui estimasi konsensus pasar pada kuartal II-2026.

Peningkatan volume penjualan bijih nikel hingga 139% QoQ pada kuartal II-2026 secara signifikan memperkuat operating leverage dan menurunkan biaya unit. Biaya kas pada tambang nikel Pomalaa bahkan berhasil ditekan menjadi US$ 7 per wmt dari sebelumnya US$ 13 per wmt pada kuartal pertama 2026.

"Dengan penjualan bijih nikel/nikel matte pada semester pertama tahun 2026 yang mencapai 28%/41% dari estimasi kami untuk tahun 2026, kami meyakini INCO akan kembali mencatatkan pemulihan laba secara berurutan pada semester kedua tahun 2026 (H226), yang didorong oleh peningkatan pertumbuhan penjualan," ujar Igor dalam risetnya, (30/7/2026).

Igor Putra juga menambahkan, INCO memiliki narasi pertumbuhan pendapatan terbaik di antara emiten nikel lainnya. Transisi model bisnis struktural INCO dari sekadar penjual nikel matte menjadi pemasok bijih nikel dan mixed hydroxide precipitate (MHP) menjadi nilai tambah utama.

Kemitraan strategis dengan perusahaan material energi baru asal China memperkuat posisi INCO dalam menghadapi tantangan pasokan sulfur global.

Langkah ini sekaligus memperlancar kesiapan komisioning proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang ditargetkan berlangsung pada kuartal ketiga 2026.

Kendati demikian, Igor dan Adrian mengingatkan adanya sejumlah risiko penekanan kinerja emiten tambang ini. Risiko utama mencakup potensi penurunan harga nikel global, fluktuasi biaya energi, serta keterlambatan perizinan kuota penambangan (RKAB).

 

Atas berbagai faktor operasional dan prospek ekspansi margin tersebut, Igor dan Adrian mempertahankan pandangan positif terhadap saham INCO.

Adrian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target Rp 6.300 per saham.

Sementara itu, Igor mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 8.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×